Siapkan musim giling 2021, PTPN XI terapkan excellent operational

Sabtu, 28 November 2020 | 15:40 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PTPN XI menyiapkan langkah strategis untuk giling tahun 2021 dengan menempatkan upaya penambahan bahan baku tebu sebagai prioritas.

"Inti permasalahan yang kami hadapi saat ini adalah berkurangnya pasokan bahan baku tebu, salah satu penyebabnya adalah lahan tebu existing yang ada tidak banyak bertambah sedangkan jumlah pabrik gula di Jawa Timur bertambah. Sehingga kebutuhan kapasitas giling tidak terpenuhi dengan optimal. Ini yang menjadi PR bagi semua industri gula, membangun lahan tebu baru. PTPN XI selain mengoptimalkan protas di lahan sendiri baik sewa maupun kerjasama agroforestry dengan Perhutani di wilayah barat, sedangkan untuk HGU di wilayah timur Situbondo, Jember dan Lumajang kami naikkan target protas karena beberapa lahan sudah mencapai 100 ton per hektarnya. Untuk opsi menambah lahan sedang kami kaji terkait kondisi internal dan potensi sinergi dengan pihak ketiga masih terbuka," terang Direktur PTPN XI, R . Tulus Panduwidjaja, Surabaya, Sabtu (28/11/2020).

Mahmudi Direktur Operasional PTPN III (Persero) saat melakukan kunjungan ke Agroforestry Rejuno KPH Saradan yang merupakan bentuk kerjasama antara PTPN XI dengan Perhutani sejak tahun 2017, mengatakan bahwa Kerjasama agroforestry menjadi salah satu alternatif menambah ketersediaan bahan baku tebu yang saat ini mengalami penurunan karena konversi lahan dan persaingan dengan pabrik lain, baik yg sudah lama berdiri maupun PG baru.

"Jadi harus dikelola dengan baik, segera kembangkan lebih luas lagi dengan tetap mengacu pada kondisi dan kesuaian lahan. Untuk itu survey lahan sangat perlu dilakukan dengan benar agar mendapatkan lahan yang layak ditanami tebu," kata Mahmudi

Penurunan lahan juga mendapat sorotan berbagai pihak termasuk Kementerian Pertanian. Selasa (24/11/2020) sebelumnya dalam acara National Sugar Summit yang digelar secara virtual Kasdi Subagyono Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian memaparkan ada penurunan luasan lahan dan daya saing komoditas tebu yang berkurang sehingga seringkali berebut dengan komoditas non tebu.

"Memang benar ada penurunan luasan, dan daya saing yang juga berkurang karena dia menggunakan lahan irigasi sehingga rebutan dengan komoditas padi dan jagung," kata Kasdi

Terpisah hal serupa disampaikan oleh Sekretaris Jendera Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) Daniyanto yang menyoroti tidak seimbangnya jumlah bahan baku tebu yang tersedia dengan kebutuhan pabrik gula dan peluang yang dimiliki PTPN XI.

Dia menegaskan, tantangan berupa tidak balance nya supply dan demand bahan baku tebu terlebih seiring beroperasinya pabrik gula baru di Jawa Timur. Maka harus disikapi dengan cermat dan cepat oleh PTPN XI dengan mengoptimalkan semua sumber daya yang ada di PTPN XI, mulai lahan HGU, pabrik handal dan efisien, team work kompak dan solid, loyalitas dan hubungan kekeluargaan yang kuat antara pabrik gula dengan Petani serta Assosiasi Petani adalah sumberdaya dan keunggulan yang dimiliki PTPN XI.

Hal lain yang sangat diperlukan oleh PTPN XI untuk mememanfaatkan peluang dalam pencapaian kinerja tahun 2021 adalah implementasi cost leadership agar biaya pokok produksi bisa kompetitif dan optimalisasi sumber pendanaan untuk menopang terjaminnya supply bahan baku tebu.

Selain optimalkan lahan sendiri PTPN XI terus membenahi pola kemitraan dengan petani tebu rakyat diantaranya dengan meningkatkan pelayanan dan menyalurkan bantuan modal usaha.

"Kami masih menghormati pola kemitraan yang didasarkan saling mempercayai dan bertanggungjawab. Untuk masa tanam 20/21 rencana kami salurkan sebesar 38,9 milyar rupiah untuk membantu modal kerja petani tebu mitra," lanjut Tulus.

Terhadap faktor pabrik pihaknya melanjutkan perbaikan secara berkelanjutan pabrik gula. "Secara umum kami akan lakukan Excellent Operational dengan kolaboratif clastering terhadap pencapaian target dengan sasaran biaya pokok produksi terkendali," ujarnya.

Masing-masing pabrik juga akan melakukan perbaikan agar kinerja pabrik maksimal dan efisiensi pabrik terjaga. Sementara program modernisasi dan peningkatan kapasitas masih dalam penyelesaian.

"Komisioning pabrik gula Assembagoes masih belum berhasil, padahal kita semua berharap besar, masing-masing dari kita baik KSO terlebih teman-teman di pabrik sudah berusaha keras untuk keberhasilannya. Sedangkan Jatiroto masih on the track, masing-masing saat ini masih dihandle KSO belum serah terima karena memang belum selesai. Kami berupaya untuk menyelesaikan hal tersebut termasuk melaporkan setiap perkembangan ke pemegang saham. Kami juga merasa kehilangan sosok bupati Situbondo alm. Dadang Wigiarto yang infonya baru kami terima sore ini. Beliau bercita-cita Situbondo sebagai lumbung tebunya Jawa Timur, dan kami akan mencoba wujudkan harapan itu dengan memprioritaskan penyelesaian PG Asembagus dan optimalisasi pabrik gula di Situbondo," tutupnya.kbc6

Bagikan artikel ini: