Baja lapis PT Sunrise Steel tambah kapasitas produksi

Jum'at, 27 November 2020 | 08:40 WIB ET

MOJOKERTO - Produsen baja PT Sunrise Steel menambah kapasitas produksi Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) untuk memenuhi kebutuhan pasar yang mulai meningkat sejak kuartal III/2020 atau pasca pandemi.

Presiden Direktur Sunrise Steel, Henry Setiawan mengatakan di masa pandemi ini ternyata menjadi kesempatan bagi industri baja tanah air untuk mengibarkan sayapnya di negeri sendiri, pasalnya di saat permintaan meningkat harga baja dunia pun juga terus naik.

“Tahun ini pandemi praktis baja tidak turun harganya, termasuk di dalam negeri. Secara demand tidak ada masalah, malah secara pasokan mengalami kelangkaan, mungkin di negara lain belum berproduksi sehingga permintaan seluruh dunia lebih bagus,” jelasnya seusai peresmian Lini 2 Pabrik BjLAS merk ZINIUM®ï¸, Rabu (25/11/2020).

Dia mengatakan bahkan sampai saat ini utilitas pabrik baja Sunrise Steel sudah mencapai 80 persen. Sepanjang kuartal III/2020, penjualan mengalami peningkatan 30 - 31 persen dibandingkan kuartal II saat awal pandemi terjadi.

“Bahkan di kuartal terakhir ini saya perkirakan masih ada peningkatan permintaan di atas 31 persen karena proyek-proyek pemerintah terus digenjot untuk serapan anggaran, begitu juga dari pasar ritel banyak orang merenovasi rumahnya,” imbuhnya.

Henry menambahkan semakin besarnya potensi pasar baja dalam negeri ini juga tidak lepas dari peran pemerintah yang mendukung industri dalam negeri melalui berbagai regulasi seperti penerapan produk SNI dan kewajiban penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). 

Adapun pabrik BjLAS Lini 2 di Mojokerto ini memiliki kapasitas produksi mencapai 140.000 ton/tahun. Secara total pabrik Line 1 dan 2 ini mencapai 400.000 ton/tahun. 

“Kami berharap upaya ini menjadi semangat industri untuk melakukan swasembada baja sehingga bisa ditiru pelaku industri lain,” imbuhnya.

Sekjen Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan saat ini pemerintah terus berupaya melindungi produk dalam negeri dengan pembatasan importasi melalui kebijakan TKDN .

“Jadi produk anak bangsa kita yang sudah diserap 25 - 40 persen atau dibeli oleh proyek pemerintah dan BUMN. Kita juga siapkan aturan larangan terbatas untuk melindungi industri kita,”  Katanya.

Sigit menambahkan melalui perlindungan itu, industri dalam negeri bisa bergerak positif, bahkan investasi sektor industri selama Januari - September mengalami kenaikan 37 persen, bahkan utilisasi industri juga mampu mencapai 70 - 80 persen setelah sempat drop menjadi 30 - 40 persen akibat pandemi.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menambahkan instrumen lain yang terus digencarkan pemerintah adalah penerapan SNI. Saat ini terdapat 113 produk wajib SNI termasuk baja.

“Dengan berbagai regulasi perlindungan, industri bisa menikmati pasar dalam negeri, bahkan Kuartal II industri baja kita bisa tumbuh 2,3 persen, kuartal III tumbuh 5,6 persen. Selain itu dengan SNI, konsumen juga akan terlindungi keselamatannya,” imbuhnya.

Bagikan artikel ini: