Faisal Basri: Kontraksi ekonomi berlanjut hingga kuartal I/2021

Kamis, 26 November 2020 | 23:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonom Senior Institute for Development of Economics (Indef) Faisal Basri memperkirakan kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut hingga kuartal I-2021.

Menurutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi lebih lama dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. "Pertumbuhan ekonomi kita baru positif pada kuartal II-2021. Jadi pada kuartal I-2021 kita masih minus," kata Faisal dalam webinar Indef, Kamis (26/11/2020).

Menurut Faisal masih terkontraksinya ekonomi diakibatkan oleh penanganan pandemi Covid-19 yang dilakukan Indonesia tidak maksimal. Pemerintah disebut terus melakukan trial dan error serta terlalu menitikberatkan pada ekonomi.

Di sisi lain, jumlah testing Covid-19 di Indonesia masih berada di angka 19.735 per satu juta penduduk per hari. Sehingga, kata Faisal, berat untuk menunggu vaksin dan tidak melakukan apa-apa.

Penyebaran pandemi yang tidak terkendali ini, lanjutnya, juga membuat respons kebijakan ekonomi pemerintah tidak memberikan dampak yang signifikan. Selain itu, konsumsi masyarakat juga belum bergerak, yang terlihat dari menumpuknya dana pihak ketiga (DPK) perbankan.

"Ini membuktikan kepercayaan kepada pemerintah dalam menangani virus relatif rendah karena trial dan error terus," ujar dia.

Faisal meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan mengalami kontraksi pada kuartal I-2021 sebesar minus 0,7%. Dia melihat Indonesia baru akan melewati gelombang pertama pandemi Covid-19 setidaknya pada Februari 2021. Dus, pada kuartal II-2021, Faisal memperkirakan ekonomi Indonesia bisa pulih dengan tumbuh positif 1,4%.

"Solusinya kembali, kendalikan virus. Ini akan secara otomatis membantu ekonomi untuk tumbuh positif," tuturnya.

Kesempatan sama,Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kemenperin Eko Cahyanto

memperkirakan industri pengolahan nonmigas masih akan tumbuh terkontraksi sepanjang 2020.

Eko menuturkan meskipun mengalami perbaikan, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas masih akan terkontraksi hingga -2,22% pada tahun ini.

"Tren perbaikan industri pengolahan nonmigas diharapkan terus berlanjut pada kuartal IV-2020, seiring dengan peningkatan ekspor dan perbaikan PMI di Oktober 2020," kata Eko.

Hingga kuartal III-2020, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas memang masih terkontraksi -4,02%. Namun, pertumbuhan ini menurutnya jauh lebih baik dibandingkan pada kuartal II-2020 yang tumbuh -5,74%.

Subsektor yang mendukung perbaikan industri nonmigas ini, adalah industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 14,96%. Lalu industri logam dasar yang tumbuh 5,19%, industri pengolahan lainnya, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan yang tumbuh 1,15% dan industri makanan dan minuman yang tumbuh 0,60%.

Sementara pada 2021, Kemenperin memperkirakan industri pengolahan nonmigas bisa tumbuh 3,95%. Proyeksi ini, merupakan skenario yang optimistis, seiring dengan langkah pemulihan ekonomi nasional yang dijalankan pemerintah.

"Tahun depan, dengan asumsi pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dan sudah ada vaksin sehingga aktivitas ekonomi mulai pulih, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas diproyeksikan naik 3,95%," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: