Lima strategi fasilitasi Barantan genjot ekspor pertanian

Rabu, 25 November 2020 | 09:21 WIB ET
Kabarantan Kementan Ali Jamil saat meninjau pelayanan karantina ekspor komoditas sarang burung walet
Kabarantan Kementan Ali Jamil saat meninjau pelayanan karantina ekspor komoditas sarang burung walet

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Karantina Kementerian Pertanian (Barantan Kementan) menetapkan lima strategi dalam rangka memfasilitasi akslerasi nilai ekspor pertanian.Melalui Gerakan Tiga Kalo Ekspor (Gratieks), memadukan peran stakeholders pertanian dari hulu- hilir,termasuk membuka akses pasar global.

Demikian dikatakan Kepala Barantan Ali Jamil dalam acara diskusi virtual e-AgriTalks bertajuk “Ekspor Pertanian: Strategi dan Peluang” yang diselenggarakan dalam forwatan di Jakarta,Selasa (24/11/2020).

Komoditas pertanian, kata Ali mampu tumbuh positif saat sektor lainnya negatif selama pandemi Covid-19 berlangsung. Tak ayal sektor pertanian menjadi kunci kebangkitan ekonomi nasional dari jurang resesi akibat terdampak pandemi Covid-19.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Ali mengemukakan, dari total nilai ekspor Indonesia pada Oktober lalu sebesar US$14,39 miliar, sektor pertanian menyumbang sebesar US$0,42 miliar atau setara Rp5,96 triliun. Jika dibandingkan September 2020, ekspor pertanian naik sebesar 1,26% dan jika dibandingkan Oktober 2019, ekspor pertanian tumbuh 23,8%.

Ekspor pertanian periode Januari – Oktober 2020 juga tumbuh sebesar 11,38% dibanding periode sama tahun lalu. Selama periode tersebut tahun ini, nilai ekspor pertanian mencapai US$3,24 miliar atau setara Rp 45,42 triliun. Dibandingkan total eskpor Indonesia, sektor pertanian berkontribusi sebesar 2,47%.

Sejumlah strategi pun telah dilaksanakan Kementan untuk menyukseskan program Gratieks. Menurut Ali Jamil ada lima angkah strategis yang dilakukan untuk mendongkrak ekspor komoditas pertanian.Langkah pertama, mendorong pertumbuhan eksportir baru diantaranya dengan mencetak 2,5 juta eksportir milenial di sektor pertanian. Mereka diharapkan mampu menggerakkan pertanian secara modern dan mengakses pasar secara leluasa.

Menurut Alimperan petani milenial sangat strategis untuk bisa menciptakan inovasi pertanian dari hulu ke hilir sehingga menciptakan nilai tambah komoditas pertanian. Para petani milenial, dengan cara-cara yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh para seniornya, mampu menghadirkan terobosan pasar terutama melalui pemanfaatan teknologi digital.

“Saat ini makin banyak generasi muda yang terjun pada bisnis berbasis komoditas pertanian dan produk olahannya karena memang menjanjikan penghasilan tinggi dan berkelanjutan,” beber Ali.

Strategi kedua untuk memacu ekspor menurut Ali adalah memperbesar volume ekspor dengan membangun sinergi dengan pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya untuk menciptakan terobosan dan inovasi yang bisa meningkatkan ekspor pertanian. Kementan juga terus mendorong dan menfasilitasi perusahaan-perusahaan daerah untuk terus meningkatkan ekspor berbagai komoditas penting seperti kopi, lada, kapulaga, karet, hingga produk turunan kelapa sawit.

Selanjutnya strategi ketiga menambah ragam komoditas ekspor baik dengan memperkuat hilirisasi (produk pertanian olahan), hingga menggali potensi daerah yang berkualitas ekspor dan laku di pasar global. Kementan juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan nilai investasi sektor pertanian, baik on farm maupun off farm.

“Bekerja sama dengan Kementerian lain, Kementan juga membina usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kualitas produk olahan hasil pertanian agar berstandar ekspor, serta memberikan bimbingan ekspor baik akses pasar maupun kemudahan perizinan," katanya.

Ketiga strategi diatas selanjutnya diperkuat dengan dua strategi berikutnya yaitu meningkatkan frekuensi pengiriman dengan kemudahan layanan ekspor dan menambah banyak mitra dagang luar negeri baik kerjasama bilateral, multilateral, maupun memfasilitasi kemitraan antara pengusaha dalam negeri.

“Seperti teman-teman ketahui, Pak Menteri Punya program  dalam lima tahun ada 2,5 juta petani milenial. Setiap tahunnya 500 ribu orang. Selain itu, kami juga mengapresiasi program Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, yang meminta 1.000 petani milenial untuk menggarap hektare lahan tidur milik pemerintah," ujar Jamil.

Selanjutnya, Ali mengatakan menambah ragam komoditas ekspor dengan mengeksplor ragama komoditas, seperti tanaman hias yang memiliki banyak ragam. "Arahan Presiden dan Menteri jangan lagi mengekspor dari hulunya, karena permintaan hilirnya masih unlimited,” ujar Jamil.

Dia menambahkan, Kementan juga mendorong peningkatan frekuensi pengiriman, peningkatan volume ekspor dan menambah negara mitra dagang melalui kerja sama perjanjian sanitary and phytosanitary (SPS) dengan negara mitra.

Ricky Subagja, Eksportir Tanaman Hias menyebutkan bahwa ekspor pertanian semakin mudah dengan adanya kebijakan Badan Karantina Pertanian. Di atas lahan seluas 250 meter persegi, Ricky membudidayakan tanaman hias seperti philoderon, monstera, calathea, dan adenium. “Walaupun lahan saya tidak luas, tetapi saya merangkul petani lainnya. Kurang lebih ada 10 petani yang saya bina,” kata dia.

Ia mengatakan negara tujuan ekspor diantaranya Jerman, Kanada, Belgia, dan Amerika Serikat. Dalam satu bulan, volume ekspor mencapai 1.000-2.000 tanaman berbagai jenis. “Regulasi sangat mudah dari pemerintah. Selama ini, kita tidak menyalahi peraturan,” ujarnya. 

Terkait dengan negara tujuan Ekspor,Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM-Institut Pertanian Bogor (IPB) Sahara menegaskan diperlukan langkah preventif bagi para eksportir mendiversifikasi pasar tujuan ekspor. “Kalau ekspor hanya andalkan satu negara sama seperti menyimpan telur dalam satu keranjang. Risiko pecahnya sangat tinggi,” tutup Sahara.kbc11

Bagikan artikel ini: