Kementan pasang target swasembada gula konsumsi dalam tiga tahun

Selasa, 24 November 2020 | 19:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) berani memasang target swasembada gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi dalam tiga tahun mendatang.Padahal saat ini, neraca gula konsumsi Indonesia masih defisit.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo atau SYL mengatakan pihaknya menempuh sejumlah langkah untuk menutup celah defisit kebutuhan melalui perluasan area perkebunan tebu (ekstensifikasi) sekaligus peremajaan tanaman (intensifikasi) hingga mendorong adanya investasi baru untuk pembangunan pabrik gula baru.

"Gula konsumsi secara bertahap kita siapkan, jadi saya akan konsentrasi untuk akselerasi gula konsumsi, kalau sudah terpenuhi, selanjutnya mengejar swasembada gula industri," kata Syahrul dalam National Sugar Summit yang digelar secara virtual, Selasa (24/11/2020).

Upaya intensifikasi dilakukan melalui bongkar ratoon atau peremajaan pada lahan seluas 75.000 hektare (ha). Produktivitas ditargetkan naik menjadi 15 ton per ha. Selain itu, juga dilakukan rawat ratoon atau perawatan di lahan seluas 125.000 ha dan ditargetkan produktivitas naik menjadi 13 ton per ha. Intensifikasi lahan tersebut dilakukan di Pulau Jawa.

Adapun ekstensifikasi, Syahrul mengatakan dilakukan di luar Jawa. Ditargetkan, pembukaan lahan baru mencapai 50.000 ha. "Luasan lahan 250.000 hektare itu banyak dan tidak semudah yang kita bayangkan, karena itu kita akan persiapkan dan tentu sampai ke proses hilirisasinya," ujar Syahrul.

Meski begitu Mentan mengakui upaya mencapai swasembada tidak hanya dengan pendekatan lahan. Namun, perlu persiapan benih unggul dengan teknologi hasil penelitian baik dari pemerintah maupun swasta.Peningkatan produksi, kata Syahrul harus diimbangi manajemen penyerapan agar tidak merugikan petani.

Karena itu pihaknya mengajak semua pihak untuk ikut berkontribusi terhadap pemenuhan gula nasional. "Terkait masalah gula merupakan tantangan tersendiri bagi saya dan Kementerian lain untuk bersama sama mencari solusi terhadap kebutuhan gula nasional sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada gula konsumsi," katanya.

Mentan menambahkan akselerasi kesiapan gula konsumsi wajib dilakukan dengan menguatkan sinergitas antar lembaga dan kementerian lain untuk sama-sama mengejar ketersediaan gula industri yang selama ini memiliki nilai impor yang besar. "Sejauh ini, ada tiga konsepsi yang akan kami lakukan ke depan, yaitu dengan melakukan pembudidayaan yang cocok, penerapan pasca panen yang benar, dan proses hilirisasi dengan sentuhan mekanisasi modern yang harus masuk pada industri untuk persiapan pasar internasional," katanya.

Sebagai informasi, kebutuhan komoditas gula di Indonesia saat ini mencapai 5,8 juta ton per tahun. Adapun kebutuhan gula konsumsi nasional 2,8 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru 2,18 juta ton. Dari neraca tersebut, defisit gula konsumsi sebanyak 620.000 ton.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono menambahkan defisit gula yang ada diyakini dapat ditutup pada 2023 dengan sejumlah upaya swasembada. Ia memaparkan tambahan produksi gula lokal pada 2023, diyakini meningkat 676.000 ton sehingga total kebutuhan domestik dapat dipenuhi.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Direktorat Jenderal Perkebunan Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan kenaikan produksi gula yang diprediksi naik tahun ini karena berdasarkan dari hasil taksasi tengah ada kenaikan tahun ini.

Bagus menyebutkan hasil hitungan produksi gula kristal putih pada Agustus 2020 mencapai 895.952 ton. Sehingga hingga akhir tahun total produksi diperkirakan dapat mencapai 2,23 juta ton.kbc11

Bagikan artikel ini: