Potensi besar, industrialisasi olahraga Indonesia harus digerakkan

Sabtu, 21 November 2020 | 16:02 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Indonesia manjadi pasar yang potensial dan cukup besar bagi hampir seluruh produk, tidak terkecuali produk perlengkapan olahraga dan segala perniknya. Hanya saja, industrialisasi olahraga di Indonesia sampai saat ini masih belum terbentuk, sehingga pasar lebih banyak dikuasai asing.

Dalam acara Talkshow INAPRO 2020 yang digelar Kadin Jawa Timur, Direktur PT Incor Bola Pasific Thomas More Soeharto mengatakan, agar olahraga mampu menggerakkan dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional, maka visi yang harus dibangun bersama adalah bagaimana olahraga di Indonesia bisa menjadi industri.

"Bukan hanya sekedar sehat dan bugar saja tetapi olahraga ini harus jadi industri. Karena ketika menjadi industri semua akan bergerak, baik event, penjualan jersey hingga peralatan olah raga lainnya seperti sepatu dan bola. Ini harus menjadi visi kita bersama," tegas Thomas, Jumat (20/11/2020) petang.

Jika didukung dan dikembangkan dengan maksimal, ia optimistis industry ini akan mampu berkontribusi besar terhadap ekonomi di nasional. Di Amerika misalnya, industri olehraga telah berkembang dengan pesat hingga mengalahkan industry otomotif dan perfilman. "Ada satu survei mengungkapkan bahwa industri olahraga di Amerika dua kali lipat dari industry otomotif dan tujuh kali lipat dari industry perfilman Hollywood," tandasnya.

Sebagai dukungan atas keinginan tersebut, sejak tahun 1999 PT Incor Bola Pasific berkosentrasi membesarkan brand bola Proteam. Karena sejak perusahaan ini berdiri pada tahun 1992, sebagian besar produksinya atau sekitar 75 persen dijual ke luar negeri dan 75 persen dari ekspor tersebut dikirm ke Amerika.

"Yang kami kirim itu tanpa brand. Di sana mereka melabeli dengan label mereka sendiri dan dijual. Dengan sejumlah upaya yang kami lakukan dan juga akibat pandemic, akhirnya prosentasi penjualan kami saat ini terbalik, 75 persen dijual dalam negeri sementara 25 persen diekspor ke sejumlah negara," terangnya.

Saat ini merek Proteam sudah mulai digemari dan menjadi pilihan masyarakat saat membeli bola. Ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan PT Incor Bola Pasific di Surabaya bahwa bola produksinya menjadi satu-satunya bola produksi lokal yang dipilih dan menempati urutan kedua serta ketiga saat masyarakat membeli bola.

Ketua Dekranasda Jatim yang juga menjadi Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Jatim Arumi Bachsin mengamini hal tersebut. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, daya beli tidak rendah dan masyarakatnya cenderung konsumtif, Indonesia selalu menjadi sasaran empuk semua negara.

"Harusnya olahraga menjadi sebuah budaya sejak kecil sampai lifestyle masing-masing. Sehingga industri mengikutinya. Dan gerakan BBI (Bangga Buatan Indonesia red.) ini akan menjadikan produk Indonesia sebagai tuan rumah di negara sendiri," tekannya.

Di sisi lain, Presiden Persetuan Sepakbola Surabaya Azrul Ananda yang juga menjabat sebagai Founder sekaligus Direktur Utama PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, mengatakan bahwa sejak lama ia menekankan agar seluruh perlengkapan Persebaya dan DBL mulai dari Jersey hingga sepatu dan bola, harus menggunakan produk dalam negeri. Karena memang sebagian besar yang aktif di olahraga, masih menggunakan barang produk luar negeri.

"Kalau bicara support produk lokal, sejak awal di DBL, kami sudah mengarah bagaimana sebisa mungkin menggunakan produk Indonesia. Saat DBL dimulai tahun 2004 dan langsung booming, kami membutuhkan bola gila-gilaan untuk kompetisi. Kebutuhannya dalam setahun bisa mencapai seribu bola. Itu hanya untuk liganya saja, belum untuk akademi dan yang lain. Dan kita dulu krisis bola karena tidak ada merek impor yang bisa menyediakan bola sebanyak itu. Federasi Perbasi saja hanya bisa mendapatkan 300 bola untuk dibagi se Indonesia. Bagaimana kemudian olahraga bisa maju kalau bola sangat terbatas," akunya.

Gayung bersambut, akhirnya kebutuhan bola tersebut bisa terpenuhi dari PT Incor Bola Pasific. Hal yang sama juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sepatu. Saat ini, Azrul Ananda telah bekerjasama dengan Ardiles untuk mngeluarkan sejumlah tipe sepatu khusus untuk basket.

"Basket itu kendala utama ada di sepatu karena mahal sekali. Satu pasang harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Akhirnya bertemu dengan Ardiles di Surabaya dan kami mengeluarkan produk sepatu tipe Aza5 yang dijual hanya seharga Rp 300 ribu dan Aza6 Rp 430 ribu. Dan sekarang kami telah menyiapkan Aza6.9 dan tahun depan ada Aza7. Ini menjadi produk sepatu basket terlaris di Indonesia. Di Persebaya juga sama, apparel dan jersey yang digunakan harus buatan dalam negeri, termasuk pilihan bahan atau kainnya," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: