BCA serahkan bukti otentik pencairan deposito di persidangan

Jum'at, 20 November 2020 | 10:30 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Kuasa Hukumnya menyerahkan bukti otentik pencairan sembilan bilyet deposito melalui rekening Anna Suryanti. Untuk itu, BCA menegaskan bahwa klaim atas sembilan bilyet deposito yang belum dibayar tersebut tidak benar dan tidak mendasar.

Bukti pencairan sembilan bilyet deposito yang sebelumnya telah diserahkan kepada Majelis Hakim tersebut kemudian dipaparkan oleh Kuasa Hukum BCA Sudiman Sidabukke dalam sidang lanjutan gugatan perdata No.353/Pdt.G/2020/PN.SBY di PN Surabaya dengan agenda menghadirkan saksi dari pihak BCA pada Rabu (18/11/2020).

Sudiman mengatakan, bukti yang dipaparkan dalam persidangan tersebut menunjukkan fakta bahwa telah terjadi tiga kali pencairan deposito yang dilakukan Anna Suryanti, yaitu untuk deposito yang ditempatkan pada 3 Agustus 1988 sebesar Rp 10 juta telah dicairkan pada tanggal 3 Juni 1989, untuk penempatan tanggal 3 Juni 1989 sebanyak empat bilyet deposito masing-masing senilai Rp 4 juta dengan total Rp 16 juta telah dicairkan pada tanggal 4 Juni 1990, untuk empat deposito lainnya yang ditempatkan tanggal 4 Juni 1990 masing-masing senilai Rp 5 juta dengan total sebesar Rp 20 juta telah dicairkan pada tanggal 4 Oktober 1990. Seluruhnya berjumlah sembilan bilyet deposito yang telah dicairkan dalam tiga kali waktu pencairan.

Hal ini ditegaskan berkaitan dengan gugatan perdata No.353/Pdt.G/2020/PN.SBY dari Anna Suryanti, Tan Herman Sutanto, Tan Johan Sutanto dan Vonny Susanty (Penggugat) di Pengadilan Negeri Surabaya terkait dengan klaim pencairan atas sembilan bilyet deposito Penggugat di BCA.

Selain menyerahkan bukti pada persidangan terbuka tersebut, BCA juga menghadirkan saksi fakta Oei Giok Pun. Saksi membenarkan bukti yang diajukan dalam persidangan tersebut.

“BCA memiliki bukti rekening koran yang menunjukkan bahwa sembilan bilyet deposito tersebut sudah dicairkan tanggal 3 Juni 1989 sebesar Rp10 juta, tanggal 4 Juni 1990 sebesar Rp 16 juta, dan tanggal 4 Oktober 1990 sebesar Rp 20 juta. Seluruh pencairan bilyet deposito yang berstatus non ARO tersebut telah dikreditkan ke rekening Anna Suryanti selaku deposan dan selaku wali dari deposan lainnya yang saat itu masih dibawah umur ” tuturnya saat di persidangan.

Sementara itu, menjawab pertanyaan dari Kuasa Hukum Penggugat terkait apakah dimungkinkan pencairan deposito tanpa penyerahan bilyet deposito, saksi menjelaskan hal itu dimungkinkan dikarenakan deposito berjangka tersebut adalah deposito atas nama sehingga dapat dicairkan tanpa bilyet sepanjang diserahkan dokumen pendukung lainnya.

Sudiman menambahkan, dalam menjalankan operasional perbankan, BCA senantiasa mengikuti prosedur yang ditetapkan otoritas terkait dengan regulasi perbankan yang berlaku di Indonesia. 

Dirinya juga berharap semua pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan dapat bekerja sama untuk mendorong penyelesaian hukum yang adil sesuai dengan prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Apabila ada pihak-pihak yang menyebarkan informasi yang tidak benar ataupun tidak sesuai fakta, kami akan menempuh langkah-langkah hukum sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: