Tanpa eksplorasi massif, cadangan gas nasional hanya bertahan 17,7 tahun

Selasa, 17 November 2020 | 08:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat posisi cadangan gas bumi dalam negeri mengalami pengurangan. Sebelumnya cadangan gas mencapai 62,4 triliun kaki kubik (TCF), menjadi 43,6 TCF.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, penyusutan cadangan tersebut dikarenakan adanya perbedaan definisi tentang cadangan.Saat ini Indonesia menggunakan definisi berdasarkan petroleum resources management system (PRMS)

Tutuka mengatakan, dalam PRMS yang juga digunakan di dunia migas internasional, cadangan harus dibuktikan dengan adanya kegiatan atau proyek. Sementara angka 62,4 TCF tersebut belum terbukti menjadi cadangan yang bisa diproduksi.

"Definisi cadangan itu harus ada proyeknya, harus ada pekerjaannya, harus ada perencanaan dan komitmen cashflow. Setelah dicek kembali cadangan turun jadi 43,6 TCF," kata Tutuka dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Senin, (16/11/2020).

Tutuka mengatakan, penyusutan jumlah cadangan karena saat penghitungan tidak mengikutsertakan proyek yang ada di Blok East Natuna. Ia mengatakan proyek di East Natuna tidak diikutsertakan karena masih merupakan sumber daya. Sehingga akhirnya pemerintah mengeluarkan potensi gas sebesar 46 TCF yang ada di blok tersebut.

"Belum ada proyek dan buyers. Jadi enggak bisa dinilai tingkat komersialnya. Bukan reserve bukan resources," ujar Tutuka.

Dengan jumlah tersebut, apabila tidak ada penemuan cadangan baru, umur cadangan gas bumi tanah air akan bertahan hingga 17,7 tahun ke depan.Namun pemerintah meyakini, Indonesia memiliki 128 cekungan migas yang 68  di antaranya berpotensi sebagai giant discovery namub belum diekplorasi.Dia meyakini apabila kegiatan ekplorasi lebih masif lagi dilakukan maka akan menambah cadangan dan produksi nasional.

Kesempatan terpisah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan penemuan blok migas raksasa ini amat dibutuhkan seiring dengan cadangan produksi migas yang semakin menurun karena belum ditemukannya cadangan minyak yang besar, setelah penemuan Blok Cepu.

"Kita masih memerlukan adanya giant discovery mengingat konsumsi kita ke depan yang akan sangat besar. Ini menjadi tantangan ke depan bagaimana kita bisa melakukan temuan terhadap 68 potensi cekungan di wilayah Indonesia," kata Arifin.

Menteri ESDM menjelaskan Indonesia membutuhkan tambahan cadangan minyak sebesar 1 juta barel per hari (bopd). Namun di sisi lain, hingga saat ini belum ditemukan lagi temuan cadangan minyak yang sangat besar.

Temuan cadangan minyak saat ini juga dinilai masih terlalu rendah, yakni berkisar 100-200 barel per hari. Selain itu lapangan migas di Indonesia yang sudah dieksplorasi pun sudah tua sehingga produksinya kian menurun.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, saat ini Indonesia masih memiliki stok minyak bumi sebanyak 3,77 miliar barel, gas bumi sebesar 77,3 triliun kaki kubik, dan stok batu bara 37,6 miliar ton.Karena itu pemerintah mendorong eksplorasi yang sangat masif. Salah satu dukungan kegiatan eksplorasi di Tanah Air yang difasilitasi pemerintah yakni melalui penerbitan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penegasan Pemberlakuan Bentuk Kontrak Kerja Sama Migas.

Peraturan ini memberikan penegasan pemberlakuan bentuk kontrak kerja sama dan fleksibilitas terkait kontrak bagi hasil yaitu cost recovery atau gross split."Eksplorasi yang sangat masif masih sangat diperlukan. 

Saat ini cadangan produksi migas kita terus mengalami penurunan. Demikian juga di subsektor pertambangan, mineral dan batu bara, masih diperlukan kegiatan eksplorasi," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: