Ekspor anjlok, dunia usaha ingin pasar ikan kerapu lokal digenjot

Rabu, 11 November 2020 | 21:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pelaku usaha mendorong pembudidaya dan pemerintah untuk membuka pasar ikan kerapu domestik. Pasalnya, pangsa pasar lokal dinilai memiliki peluang besar, serta dapat menjadi substitusi pasar global yang lesu akibat pandemi.

Ketua Umum Himpunan Pembudidaya Ikan Laut (Hiblindo) Effendy Wong mengungkapkan pembukaan pasar ikan kerapu dalam domestik dapat dilakukan dengan mengadakan promosi harga. Agar konsumsi ikan lokal meningkat, terutama ikan hasil budidaya.

Dia berharap, pangsa pasar lokal untuk ikan kerapu segera terbentuk, sehingga pembudidaya tidak lagi perlu mencari pasar di luar negeri. "Dan harapan saya, pasar lokal ini sangat menjanjikan ke depan. Mari kita bentuk pasarnya, bukan kita menunggu pasar," seru Effendy di Jakarta, Rabu (11/11/2020).

Dia mengakui awalnya, pembukaan pangsa pasar lokal untuk ikan kerapu agak sulit dilakukan, karena termasuk komoditas untuk konsumsi kelas menengah atas. Namun saat ini, pihaknya telah membuktikan bahwa ikan kerapu bisa diproduksi dengan biaya rendah.

"Kami pikirkan bagaimana caranya membudidayakan ikan untuk menekan biaya produksi. Bagaimana menjaga kualitas benihnya. Bagaimana supaya biaya-biaya produksinya bisa terendah. Ternyata budidaya kerapu untuk pasar lokal bisa terpenuhi dan sangat bisa memberikan keuntungan juga," papar Effendy.

Dorongan untuk memperluas pangsa pasar ikan kerapu di dalam negeri, merupakan kesadaran yang ditimbulkan akibat surutnya ekspor komoditas tersebut, yang menghantam keuangan pembudidaya.

"Sekarang dengan adanya Covid-19 ini, kita terpuruk. Saya harapkan pelaku-pelaku usaha budidaya tidak terlalu berpatah hati. Memang saja, saya sadari kita menghadapi ini sekarang. Tapi kita harus antusias ke depan ini harus bisa membaik," tegasnya.

Penurunan ekspor diakui Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP Rina bahwa ekspor kerapu hidup melalui UPT BKIPM tertinggi adalah ke Vietnam.Puncaknya pada tahun 2019 dengan total ekspor sebanyak 10 juta ekor kerapu. Tetapi, sepanjang Januari-Oktober 2020 terjadi penurunan, sekitar 7 juta ekor, sehingga yang dikirim ke Vietnam hanya sekitar 3 juta ekor.

"Kalau kita lihat maka ada 5 besar pengekspor kerapu hidup yaitu Malaysia, Hongkong, Thailand dan Brunei Darussalam. Dan yang dikeluarkan itu bukan hanya kerapu hidup saja ada kerapu beku atau kerapu segar beku. Ekspor terbesar ke Taiwan, Malaysia, Singapura, Hongkong dan Amerika Serikat," terang Rina.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP Slamet Soebjakto memaparkan kendala budidaya kerapu yang terjadi pada saat awal pandemi di antaranya terkait logistik, sarana dan prasarana. Termasuk, transportasi dalam distribusi komoditas tersebut. Kondisi tersebut tidak hanya dialami pasar ekspor, namun juga pasar lokal.

"Namun semakin ke sini, masalah tersebut sudah mulai pulih walaupun belum sepenuhnya normal kembali seperti dulu-dulu sebelum pandemi. Ini yang harus betul-betul kita dongkrak ke depan," tutur Slamet.

Dia pun menyatakan KKP mengupayakan bisnis ikan kerapu tetap berjalan selama pandemi. Pasalnya, kerapu merupakan salah satu komoditas ekspor kelautan dan perikanan nasional.

Upaya dimaksud, meliputi penerbitan surat edaran terkait SOP untuk penanganan ekspor kerapu semasa pandemi. Kemudian bantuan langsung benih berkualitas dan induk unggul kerapu, yang diproduksi Unit Pelaksana Teknis atau UPT.

Aturan lainnya yang juga diyakini telah membantu mendongkrak ekspor kerapu adalah penghapusan pembatasan gross tonnage atau ukuran tonase kapal angkut. "Dan juga tidak dibatasinya lagi berapa kali keluar masuk kapal-kapal yang mengangkut kerapu hidup untuk ekspor, termasuk juga pelabuhan muat singgah," terang Slamet.

Menurutnya, sentimen kebijakan merupakan dukungan dari pemerintah.Kinerja ekspor kerapu, yang dinilai mulai berjalan normal pun, diyakini akan memicu geliat usaha budidaya kerapu yang dilakukan masyarakat. Mulai dari pembenihan hingga pembesaran.

"Kita berharap budidaya kerapu bisa bergairah kembali, termasuk benih-benih harus dimanfaatkan untuk kepentingan budidaya di dalam negeri. Produksi budidaya bisa menaikkan tingkat konsumsi ikan secara nasional, untuk peningkatan gizi masyarakat untuk mengurangi stunting," papar Slamet.kbc11

Bagikan artikel ini: