Investasi mamin dipacu, impor empat komoditas ini bakal dibatasi

Selasa, 10 November 2020 | 17:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengharapkan investor meningkatkan investasi sektor pengolahan susu, pengolahan buah, gula berbasis tebu dan kertas guna menekan impor.

Keempat sektor ini memiliki potensi dikembangkan di dalam negeri. Meski begitu sejauh ini masih mengandalkan bahan baku dari impor. "Impor yang diharapkan turun yakni industri pengolahan susu, industri pengolahan buah, industri gula berbasis tebu, dan industri kertas sebesar 20,54% atau senilai Rp 32,8 miliar," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang di Jakarta, Selasa (10/11/2020).

Untuk itu, Agus mengatakan pemerintah akan mendorong penurunan impor untuk keempat produk ini dalam 3 tahun ke depan. Saat yang sama, investasi baru maupun peningkatan produksi di dalam negeri akan dipacu.

Saat ini Kemenperin mencatat terdapat 25 proyek baru pada sektor makanan dan minuman (mamin) dengan nilai investasi Rp 30 triliun. Investasi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah mencapai target pengembangan industri mamin saat ini.

Adapun sepanjang kuartal III/2020, sumbangsih industri agro masih signifikan terhadap PDB sektor pengolahan nonmigas atau mencapai 52,94%. Perinciannya, industri makanan dan minuman dengan sumbangsih mencapai 39,51%. Selanjutnya, diikuti industri pengolahan tembakau (4,8 %), industri kertas dan barang dari kertas (4,22%), serta industri kayu, barang dari kayu, rotan dan furnitur (2,84%).

Di tengah pertumbuhan industri nonmigas yang terkontraksi 4,20%, industri makanan dan minuman tumbuh tipis sebesar 0,66%.Adapun pada Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro menembus US$29,27 miliar atau berkontribusi 35,36% pada ekspor sektor manufaktur sebesar US$82,76 miliar.

“Dari realisasi nilai investasi PMA dan PMDN di sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai Rp 201,9 triliun pada Januari-September 2020, kontribusi industri agro sebesar Rp 91,9 triliun. Ini salah satu bukti bahwa industri agro masih bergeliat di tanah air,” kata dia.

Agus menambahkan, pengembangan industri agro di Indonesia cukup prospektif. Potensi ini antara lain karena didukung pasar domestik yang besar, sumber daya pertanian yang berlimpah sebagai sumber bahan baku industri agro dalam negeri, perubahan pola konsumsi konsumen yang cenderung beralih ke makanan kemasan modern, serta munculnya pemain-pemain industri agro nasional yang sudah mampu bersaing di tingkat global.

“Dengan adanya peluang tersebut, kebijakan pemerintah dalam pembangunan industri agro adalah menjadikan Indonesia menjadi pemain terkemuka di pasar regional dengan strategi utama melalui peningkatan ekspor produk industri agro serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: