Transisi energi bakal bikin ekspor batu bara RI menyusut

Kamis, 5 November 2020 | 11:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Permintaan batu bara Indonesia dari luar negeri diperkirakan bakal berkurang di masa depan. Penyebabnya, berbagai negara saat ini sudah mulai beralih menggunakan energi baru terbarukan (EBT) untuk menghasilkan energi listrik di negaranya.

Hal itu diungkapkan Manager Program Transformasi Energi, IESR, Jannata Giwangkara dalam Peluncuran Laporan Seri Studi Peta Jalan Transisi Energi Indonesia, Jakarta, Rabu, (4/11/2020). "Proyeksi permintaan energi di Indonesia akan mengalami penurunan," katanya.

Lebih lanjut Jannata menjelaskan, sebagai negara eksportir batu bara, Indonesia akan kehilangan pasar lantaran negara tujuan ekspor mulai beralih pada energi selain fosil. Ini dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan sehingga mereka mulai beralih pada sumber energi yang rendah karbon.

"Beberapa negara tujuan sudah mulai melakukan transisi ke EBT yang rendah karbon," kata dia.

Beberapa negara yang mulai melakukan transisi energi diantaranya, Jepang, Vietnam, Filipina dan Korea. Penurunan permintaan ekspor batu bara ini juga akan berdampak bagi sejumlah wilayah di Indonesia yang hidup dari industri ini.

Setidaknya ada 5 kabupaten di 4 provinsi yang akan terganggu lantaran mengandalkan sektor batu bara sebagai pendapatan daerah. Dari data tahun 2018, Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, kontribusi batu bara terhadap PDB sebesar 32 persen dan sebanyak 65 persen dari peryambangan dan penggalian. Adapun nilai kontribusi yang diberikan sebesar Rp 160,59 miliar.

Masih di Kalimantan Timur, Kutai Timur menyumbang Rp 123,5 miliar dari kontribusi pertambangan, penggalian dan batu bara. Semntara di Paser, kontribusi pertambangan dan penggalian sebesar 75 persen dan batu bara 70 persen dengan nilai Rp 48,2 miliar.

Di Balangan, Kalimantan Selatan, sektor batu bara, pertambangan dan penggalian berkontribusi ke daerah sebesar Rp 10,75 miliar. Sedangkan di Muara Enim, Sumatera Selatan sektor yang sama berkontribusi ke daerah sebesar Rp 52,72 miliar.

Lebih jauh Jannata mengatakan penurunan permintaan batu bara ini akan mengancam setidaknya 100 ribu orang pekerja di sektor batu bara.

"Penurunan permintaan batu bara ini akan menimbulkan pengangguran lebih dari 100 ribu pekerja langsung di Indonesia," kata Jannata.

Sehingga diharapkan pemerintah daerah setempat untuk mulai mencari alternatif lain sebagai sumber pendapatan daerah. Misalnya mulai mencari sumber ekonomi dari sektor pariwisata dan sebagainya.

"Kalau ada penurunan ini harus bersiap. Ini juga yang kita lihat dan perlu antisipasi dan mitigasi untuk persiapan skenario transisi energi," pungkas Jannata. kbc10

Bagikan artikel ini: