BPS catat Oktober 2020 terjadi inflasi 0,07 persen

Senin, 2 November 2020 | 17:04 WIB ET
Kepala BPS Suhariyanto
Kepala BPS Suhariyanto

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terjadi inflasi 0,07 persen pada Oktober 2020, berdasarkan hasil pemantauan BPS di 90 kota inflasi.

Dengan begitu, tingkat inflasi tahun kalender menjadi 0,95 persen (year to date/ytd) dan 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy).

"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Oktober 2020 secara umum menunjukkan adanya kenaikan," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi video, Senin (2/11/2020).

Suhariyanto menjelaskan, dari 90 kota IHK ada 66 kota yang mengalami inflasi dan 24 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga dengan tingkat inflasi sebesar 1,04 persen dan terendah terjadi di Jakarta, Cirebon, Bekasi, dan Jember dengan tingkat inflasi sebesar 0,01 persen.

Sebaliknya, deflasi tertinggi terjadi di Manokwari dengan tingkat deflasi sebesar 1,81 persen dan terendah di Surabaya sebesar 0,02 persen.

"Yang menyebabkan deflasi tertinggi di Manokwari adalah turunnya tarif angkutan udara yang memberi andil (terhadap deflasi) sebesar 0,80 persen," ujar Suhariyanto.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, terdapat enam kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi sementara lima lainnya alami deflasi.

Kelompok pengeluaran yang alami inflasi yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,29 persen. Selain itu penyedia makanan, minuman, dan restoran sebesar 0,19 persen, dan kesehatan sebesar 0,15 persen.

"Sementara deflasi terjadi pada perumahan, perlengkapan, pemeliharaan rutin rumah tangga, transportasi, informasi dan komunikasi, serta jasa lainnya," ujar Suhariyanto.

Dia pun merinci, komoditas yang memberikan andil dominan terhadap inflasi adalah cabe merah dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen, bawang merah sebesar 0,02 persen, serta minyak goreng sebesar 0,09 persen.

Sebaliknya, penurunan harga terjadi terhadap beberapa komoditas yang menyumbang deflasi antara lain telur ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen, daging ayam ras dan beberapa jenis buah-buahan memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Sementara berdasarkan komponen inflasi sebagian besar disumbangkan oleh harga bergejolak atau volatile price dengan inflasi sebesar 0,4 persen dan sumbangan sebesar 0,07 persen. Sedangkan inflasi inti sebesar 0,04 persen dengan sumbangan ke inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara untuk harga-harga yang diatur pemerintah alami deflasi 0,15 persen dan andil terhadap deflasi sebesar 0,03 persen.

"Ini karena penurunan tarif angkutan udara dan penurunan tarif listrik di mana andil terhadap deflasi untuk tarif listrik sebesar 0,01 persen," ujar Suhariyanto. kbc10

Bagikan artikel ini: