Tujuh strategi Kementan antisipasi cuaca ekstrem La Nina

Selasa, 27 Oktober 2020 | 10:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi untuk menghadapi musim tanam (MT) Oktober 2020-Maret 2021 dan antisipasi kondisi La Nina, terutama kabupaten yang selama ini 'berwarna merah' atau langganan banjir.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, La Nina merupakan kondisi meningkatnya curah hujan bulanan 20-40 persen di atas normal. Kondisi itu yang tidak biasa itu dapat berlangsung beberapa bulan dalam beberapa tahun dan dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor.

"Kita persiapan menghadapi La Nina, kemungkinan akan ada ancaman banjir dan tanah longsor yang bisa menyebabkan gagal panen dan hama dan penyakit. Saat ini sudah kita rasakan Oktober-November curah hujan hampir di seluruh Indonesia, kecuali beberapa wilayah Sumatera," ujar SYL di Jakarta, Senin (26/10/2020).

Dengan adanya ancaman La Nina, SYL mengakui sektor pertanian menjadi perhatian khusus untuk diantisipasi dan mitigasi. Karena itu SYL meminta pemerintah daera dan petugas di lapangan lebih siap dan siaga. Apalagi Kementerian Pertanian telah menargetkan luas tanam selama MT Oktober-Maret 2020/2021 sebesar 8,2 juta hektar (ha). "Karenanya harus ada langkah bersama," ujarnya.

Setidaknya ada tujuh strategi antisipasi dan mitigasi dampak La Nina. Pertama, mapping (pemetaan) wilayah yang rawan dan biasa banjir. Ada wilayah yang berwarna hijau artinya cukup aman, warna kuning menjadi daerah waspada dan warna merah daerah yang rawan.

"Dengan pementaan ini, kita bisa mengantisipasi. Bagaimana kalau daerah merah, kita siapkan langkah emergency dan pesiapan lainnya," katanya.

Langkah kedua, pemerintah membut eraly warning system bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dengan data ini, SYL mengharapkan pemerintah daerah dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian juga tetap waspada pada daerah berwarna merah.

"Kita juga bisa prediksi daerah rawan. Dengan mapping, kesiapan kita bisa maksimal, terutama di daerah merah, begitu juga daerah berwarna kuning. Namun daerah hijau tetap waspada," kata SYL mengingatkan.

Strategi ketiga menurut SYL adalah menyiapkan Brigade La Nina (Brigade DPI-OPT), Brigade Alsintan dan Tanam, Brigade Panen dan Serap gabah Kostraling. Brigade-brigade ini harus ada di setiap kabupaten, sehingga jika dibutuhkan akan bisa langsung bergerak dan tidak dadakan.

"Karena itu kita luncurkan brigade ini di provinsi. Brigade untuk antispasi bencana banjir, Brigade tanam jika kita akan mempercepat tanam. Brigade hama jika ada tanaman petani terserang hama," tuturnya.

Strategi antisipasi keempat adalah pompanisasi in-out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier/kwarter. Langkah ini harus dilakukan, terutama di daerah jalur merah. Kelima, penyediaan benih tahan genangan seperti Inpara 1-10, Inpari 29, Inpari 30 dan Ciherang. Begitu juga benih varietas lokal juga harus dioptimalkan dan disiapkan.

Sedangkan strategi keenam adalah mendorong petani memanfaatkan asuransi usaha tani. Ini menjadi penting jika tanaman petani mengalami puso akibat banjir. Sedangkan bagi petani yang tidak ikut asuransi, pemerintah memberikan bantuan benih jika tanamanya rusak terkena banjir. "Ketujuh, kita siapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pasca panen, seperti dryer dan rice milling unit," ujar SYL.

Meski pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi dan mitigasi La Nina, SYL mengingatkan agar jangan khawatir berlebihan terhadap La Nina. Berdasarkan pengalaman kejadian La Nina, ternyata tidak lebih dari 30-40 ribu ha tanaman padi yang puso.

"Dengan luas tanam 8,2 juta ha, jumlah tersebut relatif kecil, apalagi kita mampu persiapkan dengan baik untuk pengendaliannya," ujar SYL.

"Dengan kekompakkan, kebersamaan semua jajaran dengan gubernur, bupati, kepala dinas menjadi kunci maksimalkan kegiatan. Kekompakkan tidak pernah ingkar janjir, kalau kompak hasilnya lebih banyak," imbuhnya.kbc11

Bagikan artikel ini: