Lark, platform kolaborasi untuk genjot produktivitas kerja

Jum'at, 23 Oktober 2020 | 18:32 WIB ET
Senior Professional Service Consultant Lark, Suryanto Lee
Senior Professional Service Consultant Lark, Suryanto Lee

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah mengubah segala hal di masyarakat, termasuk budaya kerja di perusahaan. Salah satunya transformasi digital akibat aturan phisycal distancing dengan bekerja dari rumah.

Kondisi itu membuat semua individu juga harus dengan cepat menyesuaikan diri dengan pola kerja baru agar tetap produktif dan menghasilkan kualitas perkerjaan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kemajuan perusahaan.

Menyikapi hal ini, Lark, platform kolaborasi terintegrasi hadir dengan berbagai fitur yang memungkinkan setiap karyawan untuk bekerja dan saling berkolaborasi tanpa hambatan jarak dan waktu.

Berdasarkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis Maret 2019, sebanyak 64,8% dari total populasi penduduk Indonesia, atau sebanyak 171,17 juta orang, sudah melek terhadap internet. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa kontribusi pengguna internet di Jawa Timur merupakan yang tertinggi kedua dengan memberikan sumbangan hingga sebesar 13,5%.

Senior Professional Service Consultant Lark, Suryanto Lee mengatakan, Lark merupakan patform kolaborasi dengan berbagai fitur yang terintegrasi. Hal ini akan menjadi keunggulan karena pengguna dapat mengerjakan berbagai macam hal, dari membuat dan mengedit dokumen, menerima email, mengirimkan pesan, mengelola agenda, hingga menelepon, serta melakukan video conference.

"Dan salah satu faktor terpenting, adalah kemudahan untuk dioperasikan oleh berbagai rentang usia. Kami mengerti bahwa sebuah platform kolaborasi harus terintegrasi dan dapat memberikan kemudahan serta kenyamanan, dan Lark memiliki semua itu," kata Suryanto Lee dalam press conference virtual, Jumat (23/10/2020).

Lark diciptakan untuk dapat membantu perusahaan agar tetap produktif. Lark menyediakan berbagai fitur seperti Messenger, Video Conference, Docs & Sheets, Penyimpanan Cloud, Kalender, Mail yang terintegrasi, serta fitur real-time translation dalam beberapa pilihan Bahasa seperti, Bahasa Indonesia, China, Korea, Jepang, Prancis, Portugis, Brasil, Jerman, Hindi, Italia, Rusia, Spanyol, Thailand, dan Vietnam.

Dikatakan Suryanto, Lark tersedia dalam versi website yang dapat diakses di Windows, dan MAC, serta versi aplikasi untuk Android dan IOS dalam 11 bahasa tampilan, termasuk Bahasa Indonesia.

"Salah satu hal penting yang dimiliki Lark adalah fitur yang terintegrasi, dengan demikian segala pekerjaan dapat dilakukan dalam satu platform. Disamping itu dengan user interface yang mudah menjadikan Lark dapat digunakan oleh segala usia," ujar Suryanto Lee.

Akademisi sekaligus pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Dr. Firman Kurniawan S menyatakan bahwa penerapan teknologi tidak lagi menjadi masalah dan perusahaan justru harus segera menentukan jenis platform yang paling tepat untuk terciptanya peningkatan kualitas dan efektifitas dari sebuah komunikasi dan kolaborasi.

"Cepat atau lambat, transformasi digital pasti terjadi. Dan dengan penerapan teknologi yang tepat akan memberikan peluang bagi sebuah perusahaan untuk dapat bergerak lebih cepat dan produktif. Namun di sisi lain, perusahaan juga harus meningkatkan kompetensi digital bagi seluruh anggotanya, karena faktor individu seringkali menjadi penghambat perusahaan untuk dapat bergerak maju. UNESCO telah menyatakan bahwa untuk dapat bersaing di era Industri 4.0, setiap individu wajib memiliki pengetahuan digital dalam segala aspek kehidupan, dimana kemampuan memanfaatkan teknologi digital untuk komunikasi dan kolaborasi merupakan salah satu kemampuan dasar yang penting," kata Firman.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa penerapan teknologi digital merupakan hal yang penting dalam

memasuki era Industri 4.0. Dengan memaksimalkan teknologi digital, Indonesia akan memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai US$150 miliar pada tahun 2025. Namun, secara produktivitas, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain. Berdasarkan Human Capital Index (HCI) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, saat ini Indonesia menempati urutan ke-87, tertinggal cukup jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura.

Ditambahkan Firman, penerapan teknologi berbanding lurus dengan produktivitas kerja. Menurut The East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI), daya saing digital Indonesia hanya berada di kisaran 27.9, dari skala 1-100. Hal ini menunjukkan penerapan teknologi digital di Indonesia masih rendah, dan dibutuhkan edukasi yang lebih mendalam kepada para pelaku usaha.

"Walaupun demikian, dengan populasi yang besar, Indonesia memiliki potensi yang besar dalam perkembangan ekonomi digital," tandasnya.

Produktifitas dan efisiensi kerja perlu didukung dengan proses komunikasi dan kolaborasi yang baik antar pekerja sehingga tidak terjadi kesenjangan komunikasi dan perusahaan dapat mempertahankan serta meningkatkan kinerja bisnis mereka. Untuk dapat mencapai hal ini, perusahaan perlu menerapkan dan mengoptimalkan pemanfaatanbteknologi dalam ruang lingkup tempat kerja dan cara mereka bekerja, sehingga mampu menjembatani seluruh hal yang dibutuhkan untuk tetap produktif kapanpun dan dimanapun, terlebih di situasi yang di akibatkan oleh pandemi Covid-19 saat ini dimana perusahaan perlu melakukan pembatasan kehadiran karyawan atau penerapan bekerja dari rumah. kbc7

Bagikan artikel ini: