PTPN XI kembali ekspor daduk ke Jepang

Jum'at, 16 Oktober 2020 | 18:13 WIB ET

LUMAJANG, kabarbisnis.com: PT Perkebunan Nusantara XI kembali melakukan ekspor daduk (Sugarcane Top/SCT) untuk kali ketiga di PG Djatiroto Lumajang Jawa Timur dengan total volume sebesar 34 ton SCT.

Sebelumnya, ekspor dilakukan pada Februari dan Agustus lalu. Daduk yang diekspor berasal dari kebun HGU Djatiroto dan akan dikirimkan ke Jepang.

"Hari ini kami mengirimkan kurang lebih 34 ton SCT atau lebih dikenal daduk yang berasal dari kebun HGU milik PG Djatiroto dengan tujuan negara Jepang. Pasar masih terbuka luas, kami ambil peluang emas ini untuk memperkuat core bisnis PTPN XI. Kami berkomitmen untuk menjaga performa core bisnis tetapi juga mengoptimalkan resource yang ada sebagaimana program strategik PTPN XI," jelas Kepala PUSLIT Sukosari, Nanik Tri Ismadi yang menjadi penanggungjawab program ekspor SCT, Lumajang, Jumat (16/10/2020).

Selain bermanfaat secara ekonomis, pengambilan daduk dari kebun juga memiliki berpengaruh bagi pertumbuhan tebu serta berbagai manfaat lainnya.

Dia mengatakan, selama ini daduk berlimpah dan dianggap sampah. Dan pengambilan daduk mendukung pekerjaan klentek agar tanaman tebu menjadi bersih dari daduk yang menempel di batang. Ketika batang sudah bersih, maka dapat menaikkan proses pembentukkan gula dalam batang tebu dan mendorong tebu cepat masak, serta memperbaiki sanitasi kebun. Selain itu juga membantu mempermudah persiapan lahan setelah tebu ditebang untuk pengolahan lahan selanjutnya.

"Tentunya tidak semua diambil habis. Masih ada yang dibiarkan agar terurai dan menambah unsur hara tanah lahan," terang Nanik kemudian.

Pihaknya mengumpulkan daduk setiap hari selama musim giling dan memproses daduk hingga siap dikirim ke luar negeri. Daduk sebagai bahan SCT dikumpulkan setiap hari selama musim giling oleh Tim khusus pencari daduk dari kebun HGU Jatiroto yang dekat dengan lokasi pabrik SCT. Selanjutnya daduk dicacah dengan mesin crusher dengan panjang cacahan 3 hingga 5 cm kemudian dijemur dibawah sinar mata hari hingga kering.

"Setelah kering dengan kelembaban 12 persen siap untuk dipressing. Faktor cuaca sangat mempengaruhi proses pengeringan bahan SCT hingga supply bahan baku daduk yang masih belum stabil, menjadi kendala saat ini. Kami juga membuka kerjasama bagi petani tebu untuk suply bahan baku," lanjutnya.

Asumsi perolehan jumlah daduk sebanyak 2 persen pada saat masa pemeliharaan atau klentekan dan 10 persen pada saat musim giling/panen dan protas sebesar 800 Ku/Ha, maka potensi pasokan daduk diperkirakan ± 16 Ku/Ha pada masa pemeliharaan dan ± 80 Ku/Ha pada masa panen.

Langkah manajemen tersebut mendapat apresiasi dari Dewan Komisaris yang juga melakukan kunjungan kerja virtual ke Pabrik Gula Djatiroto di hari yang sama.

"Kami memberikan apresiasi dan support langkah manajemen dalam menjaga performa bisnis korporasi, memperkuat core bisnis dan mengoptimalkan aset dan sumber daya yang ada agar bisa berkelanjutan terutama disaat seperti ini. Terobosan memang harus dilakukan, jangan lagi memiliki mainset menjalankan bisnis as ussual, ini menjadi nilai tambah bagi PTPN XI," jelas Komisaris Utama PTPN XI, Dedy Mawardi.kbc6

Bagikan artikel ini: