Terhempas pandemi, 43 maskapai penerbangan komersial global bangkrut

Senin, 12 Oktober 2020 | 12:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perusahaan Data Perjalanan, Cirium mencatat ada sebanyak 43 maskapai penerbangan komersial global sejak Januari 2020 telah mengalami kerugian, dibandingkan dengan tahun 2019 dan 2018. Meski sudah mendapat sokongan dana dari pemerintah untuk tetap bertahan, para ahli penerbangan melihat adanya kemungkinan perusahaan penerbangan yang jatuh dalam beberapa bulan ke depan.

"Tanpa campur tangan pemerintah, kami bisa mengalami kebangkrutan massal dalam enam bulan pertama krisis ini," ungkap analis independen dari Sobie Aviation, Brendan Sobie seperti dikutip, Minggu (11/10/2020).

Sebelum pandemi melanda, Sobie menandaskan bahwa sudah banyak maskapai penerbangan yang memang sudah mulai terseok, tetapi sekarang mereka mendapat "kesempatan" lebih untuk bertahan hidup karena adanya bantuan pemerintah.

Stimulus yang diberikan pemerintah juga dianggap krusial oleh Kepala Konsultan Global Perusahaan Data Perjalanan Cirium, Rob Morris. "Kalau sampai pemerintah sudah turun tangan, artinya memang sedang terjadi hal penting dan tidak ada pilihan lain," imbuhnya.

Meskipun mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, hal ini tetap tidak memengaruhi prospek tahun 2020. "Sisa tahun ini prospeknya tidak menggembirakan. Sepertinya kegagalan maskapai penerbangan akan terjadi di penghujung tahun ini," ujar Rob.

Bagi Rob, kuartal pertama dan keempat adalah masa paling sulit, karena pendapatan sebagian besar dihasilkan pada kuartal kedua dan ketiga. Namun, tujuan besar seluruh maskapai penerbangan saat ini adalah bertahan hidup dengan biaya berapapun sembari harap-harap cemas apakah musim panas di 2021 akan mendorong permintaan yang lebih tinggi.

"Lewat permintaan pemulihan di sebagian besar wilayah terhenti, maskapai penerbangan yang masih berjuang dengan arus kas keluar, kami memperkirakan akan lebih banyak kebangkrutan terjadi pada kuartal terakhir tahun 2020 hingga setidaknya kuartal pertama 2021," papar Rob.

Prediksi Rob disetujui oleh analis independen Sobie Aviation, Brendan Sobie karena pemerintah kemungkinan akan berat mengucurkan dana terus menerus untuk maskapai penerbangan. "Tentu, kita tidak mengharapkan kebangkrutan. Jumlah kebangkrutan harus bisa dikelola dan juga tersebar dalam jangka waktu yang lama," katanya.

Adapun, data dari Cirium menunjukkan dari 43 maskapai penerbangan yang gagal pada 2020, 20 di antaranya mengoperasikan setidaknya 10 pesawat, lebih rendah dibandingkan dengan sepanjang 2019 yang mengoperasikan 12 pesawat.

"Meskipun kami telah melihat lebih sedikit kegagalan maskapai tahun ini, jumlah maskapai penerbangan yang gagal yang mengoperasikan sepuluh atau lebih pesawat sudah lebih besar daripada yang telah kita lihat dalam enam tahun terakhir. Jadi jelas bahwa pandemi berdampak besar pada maskapai, bahkan menyebabkan mereka gagal," jelas Rob.

Akibatnya, jumlah pesawat yang lebih tinggi juga berhenti beroperasi. Sejauh ini, sekitar 485 pesawat telah menganggur karena kegagalan maskapai, dibandingkan 431 buah pada 2019 dan 406 buah pada 2018.

Rob Morris menyoroti bahwa kebangkrutan ini terjadi karena model bisnis yang buruk atau masalah lokal lainnya. Namun, kegagalan di tahun 2020 sebagian besar memang disebabkan karena pandemi.

Mengutip CNBC, Asosiasi Transportasi Udara Internasional minggu ini memperingatkan bahwa industri akan menghabiskan USD 77 miliar dalam bentuk tunai pada paruh kedua tahun 2020, dan terus mengucurkan dana sekitar USD 5 miliar atau USD 6 miliar per bulan pada tahun 2021 karena pemulihan yang lambat.

Asosiasi pada Juli lalu bahkan mengatakan arus penumpang kemungkinan akan kembali ke level 2019 hanya pada 2024. kbc10

Bagikan artikel ini: