Tiga sektor ini janjikan peluang ekspor besar bagi UMKM

Minggu, 11 Oktober 2020 | 18:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan, terdapat tiga sektor yang menjanjikan peluang ekspor besar bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Meski penuh tantangan, skala bisnisnya UMKM masih memiliki harapan.

"Peluang untuk meningkatkan ekspor masih terbuka lebar apabila pelaku UMKM mau melakukan inovasi produk dan mendesainnya dengan sentuhan teknologi," ujar Teten dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (11/10/2020).

Dia menjabarkan, tiga sektor tersebut meliputi produk makanan dan minuman, fesyen, serta furnitur dan kerajinan. Saat ini, lanjutnya, kontribusi ekspor UMKM hanya mencapai 14 persen dibandingkan usaha besar dengan sumbangan hingga 86 persen dari ekspor. "Angka ini masih jauh dari kontribusi UKM di negara-negara APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) yang berkisar 35 persen," sambungnya.

Dia mengungkapkan, UMKM menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Bahkan, menurut prediksi Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) separuh UMKM terpaksa harus gulung tikar setelah September 2020.

Sebab itu, Teten menuturkan agar UMKM tetap bertahan membutuhkan dukungan bersama lintas sektoral. Contoh dukungan itu, kata dia seperti program Gerakan Belanja di Warung Tetangga yang digagas Kemenkop UKM. Selain itu, dukungan program produksi alat pelindung diri oleh UMKM.

"Kami juga ada program pasar digital UMKM, melalui program ini potensi belanja yang bisa dimanfaatkan UMKM mencapai Rp 35 triliun. Lalu ada juga gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan kami aktif mendorong sektor UMKM go digital," jelasnya.

Dia menjelaskan, UMKM menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.Setidaknya, terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi 97 persen terhadap total tenaga kerja dan 60 persen PDB nasional.

Jumlah ini menunjukkan peran UMKM sangat besar bagi perekonomian nasional. Karena itu, jika separuh UMKM gulung tikar dikhawatirkan akan berdampak besar bagi perekonomian nasional.

"Berdasarkan data APEC tahun 2018 jumlah UMKM mencapai 97 persen dari total keseluruhan usaha dan berkontribusi 50 persen terhadap tenaga kerja. UMKM juga berkontribusi signifikan PDB mencapai 20 persen hingga 50 persen," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: