Pertamina sebut kilang uzur jadi penyebab mahalnya harga BBM di Indonesia

Senin, 5 Oktober 2020 | 18:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) mengungkapkan alasan yang membuat harga bahan bakar minyak (BBM) yang diproduksinya lebih mahal dibandingkan negara lain. Tidak lain hal itu disebabkan kapasitas kilang yang mampu mengolah BBM masih terbatas.

Dirut Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, minyak mentah yang bisa diolah di kilang Pertamina jumlahnya hanya tiga persen dari pasokan dunia. "Sehingga ini yang menyebabkan harga yang tentu akan lebih tinggi karena masalah supply demand yang kurang seimbang," kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI yang disiarkan secara virtual di Jakarta, Senin, (5/10/2020).

Saat ini kilang Pertamina memang sudah berusia tua dan kapasitas pengolahannya pun terbilang kecil. Karena itu, untuk menambah kapasitas kilang, Pertamina saat ini memiliki program refinery development program (RDMP) atau moderenisasi kilang existing serta grass root refinery (GSS) atau pembangunan kilang baru.

Ada enam kilang yang sedang digarap yang nantinya akan menambah kapasitas pengolahan BBM dari satu juta barel per hari menjadi dua juta barel per hari. Nicke mengatakan dengan bertambahnya kapasitas pengolahan diharapkan akan mempengaruhi harga jual BBM di dalam negeri lebih rendah.

"Kita harapkan setelah pembangunan ini harga dari crude yang diolah dapat kita tekan yang ujung-ujungnya akan berpengaruh terhadap harga pokok produksi, dengan demikian kita harapkan harga BBM akan makin kompetitif, makin affordable bagi masyarakat Indonesia," terang dia.

Sebagai informasi saja, harga BBM dengan RON 92 yang berlaku di Indonesia sebesar Rp 9.125 per liter. Lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam, Myanmar, dan Kamboja yang masing-masing setara Rp 7.146, Rp 3.143, dan Rp 8.203 per liter. Sementara untuk produk RON 95 di Indonesia dijual dengan harga Rp 9.650 per liter, kalah murah dibanding dengan harga di Malaysia yang mencapai Rp 4.299 per liter.

Sementara , Thailand yang dikisaran Rp 7.933 hingga Rp 11.302 per liter, kemudian Vietnam dikisaran Rp 7.597 hingga Rp 7.812 per liter dan Myanmar yang sebesar Rp 4.506 per liter. Kemudian RON 88 yakni solar harga jual di Indonesia termasuk yang tertinggi ketiga di kawasan ASEAN yakni di bawah Singapura dan Laos. Adapun harga solar CN-51 di Indonesia dijual seharga Rp 9.850-Rp 10.200 per liter.

Jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain, Myanmar menjual produk yang sama dengan harga Rp 4.610 per liter, sementara Malaysia sebesar Rp 4.815 per liter, Vietnam dengan rentang harga jual Rp 6.398-Rp 6.521 per liter. Adapun Filipina yang menjual dengan rentang harga Rp 9.058-Rp 10.311 per liter, Thailand sebesar Rp 9.793 per liter dan Kamboja sebesar Rp 9.850 per liter.kbc11

Bagikan artikel ini: