Ekspor produk batik Indonesia masih menukik di masa pandemi

Jum'at, 2 Oktober 2020 | 17:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan pada saat masa pandemi ini ekspor batik meningkat menjadi US$21,54 juta pada Januari-Juli 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni US$17,99 juta dengan pasar utama ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

"Fenomena yang cukup unik, karena pasar ekspornya bisa meningkat di saat masa pandemi covid-19 ini," kata Agus saat menghadiri peresmian Rangkaian Kegiatan Hari Batik Nasional 2020 secara virtual di Jakarta, Jumat (2/10/2020).

Menperin mengatakan usaha membuka pasar-pasar baru tingkat global diharapkan bisa membantu kembali menggairahkan kinerja industri batik Indonesia, sekaligus semakin memperkenalkan batik Indonesia. Menurut data Kemenperin, saat ini industri batik mencapai 47.000 unit dan tersebar di 101 sentra serta mempekerjakan lebih dari 200.000 orang. Industri batik juga telah berperan besar dalam menyumbang devisa negara.

Agus juga mendorong penggunaan teknologi pada industri batik, sehingga produk-produk yang dihasilkan dari warisan budaya itu semakin berdaya saing. "Teknologi telah menyentuh berbagai bidang dan berhasil mengubah perilaku manusia dalam menyikapi pembuatan produk walaupun itu produk yang berbasis ketrampilan seperti batik," katanya.

Menperin menambahkan setiap perkembangan teknologi selalu menjanjikan kemudahan, efisiensi, serta peningkatan produktivitas.Adapun jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis.

"Hal itu juga terjadi di industri batik. Batik yang merupakan bagian dari industri tesktil dan busana, menjadi salah satu sektor prioritas dalam implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0, tentu dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keunggulannya," ujar Agus.

Menperin juga menjelaskan beberapa negara bahkan telah menggunakan teknologi dalam memproduksi batik secara masif, sehingga, banyak produk batik dari luar negeri membanjiri pasar-pasar dunia, bahkan juga masuk pasar Indonesia. "Ini sangat disayangkan ya, bagian dari hal yang destruktif industri, yang harus kita cermati," tukas Menperin.

Kemenperin, saat ini telah mengembangkan aplikasi Batik Analyzer untuk membedakan produk batik asli dan tiruan batik.Batik analyzer merupakan suatu aplikasi yang dapat diinstal pada mobile phone yang berbasis Android dan iOS yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi Artificial Intelegence (AI) yaitu machine learning yang sesuai dengan implementasi industri 4.0.

Meski saat ini bangsa Indonesia masih dihadapkan pada kondisi yang jauh dari ideal untuk menjalankan aktivitas karena pandemi Covid-19, bukan berarti produktivitas dan kreativitas harus berhenti.industri batik sangat diharapkan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dengan cara berpikir kreatif dan inovatif melalui pemanfaatan teknologi dan optimalisasi sumber daya yang tersedia, agar dapat terus bergerak serta berkontribusi positif bagi perekonomian.kbc11

Bagikan artikel ini: