Pembayaran klaim asuransi pasien Covid-19 capai Rp216 miliar dari 1642 polis

Jum'at, 25 September 2020 | 21:21 WIB ET
Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono.
Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pembayaran klaim asuransi yang diakibatkan oleh Covid-19 di Tanah Air sepanjang Maret-Juni 2020 mencapai Rp 216 miliar untuk 1.642 pemegang polis.

Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Wiroyo Karsono mengatakan, total pembayaran klaim tersebut berasal dari 56 perusahaan, di mana 93 persen di antaranya dikontribusikan oleh klaim berdasarkan produk asuransi jiwa dan kesehatan, sementara sisanya berasal dari asuransi jiwa kredit atau kreditur yang meninggal dunia akibat Covid-19.

"Selama pandemi, nasabah yang sakit dan meninggal akibat terpapar Covid-19 ada Rp 216 miliar klaim yang dibayarkan," katanya dalam virtual press conference AAJI terkait kinerja semester I-2020, Jumat (25/9/2020).

Wiroyo menjelaskan, dari nilai klaim tersebut tiga besar daerah dengan nilai klaim paling banyak tercatat di DKI Jakarta sebesar Rp 146,92 miliar, Jawa Timur Rp 21 miliar dan Jawa Barat Rp 19,2 miliar.

Selain itu juga ada klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi jiwa di Indonesia kepada nasabah yang berada di Singapura dan Amerika Serikat sebesar masing-masing Rp271 juta dan Rp350 juta.

"Pembayaran klaim tetap dilaksanakan meskipun pemerintah telah menyatakan Covid-19 sebagai pandemi yang artinya biaya pengobatan ditanggung pemerintah," ungkapnya.

Pendapatan turun 38,7 persen

Sementara itu Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mencatat, pendapatan industri asuransi jiwa di Tanah Air sepanjang semester I-2020 sebesar Rp72,57 triliun atau turun sebesar 38,7 persen dari Rp118,3 triliun pada periode yang sama tahun 2019 akibat terdampak pandemi Covid-19.

"Di tengah ekonomi melambat karena pandemi, industri asuransi tetap komitmen turut menyejahterakan masyarakat dan mendorong ekonomi nasional," ujarnya.

Menurut Budi, penurunan paling tajam terjadi pada hasil investasi yang menurun 191,9 persen dari Rp22,82 triliun pada semester I-2019 menjadi negatif Rp20,97 triliun.

Namun, dia bilang, jika kinerja secara kuartal tahun ini dirinci, kinerja hasil investasi pada kuartal II-2020 yang mencapai negatif Rp20,97 triliun itu membaik jika dibandingkan kuartal I-2020 yang mencapai negatif Rp47,04 triliun.

Penurunan signifikan dari hasil investasi ini, ungkap Budi, disebabkan kondisi pasar modal Indonesia kurang kondusif selama semester I-2020 dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 22,9 persen.

"Kinerja investasi dalam industri asuransi sangat dipengaruhi portofolio investasi yang terkait ekonomi makro termasuk pasar modal," katanya.

Penurunan lain juga dikontribusikan oleh pendapatan premi yang turun 2,5 persen pada semester I-2020 jika dibandingkan semester II-2020, dari Rp90,25 triliun menjadi Rp88,02 triliun.

Rincian pendapatan premi itu terdiri atas premi bisnis baru turun dari Rp54,56 triliun menjadi Rp53,12 triliun atau turun 2,7 persen dan premi lanjutan dari Rp35,68 triliun menjadi Rp34,91 triliun atau turun 2,2 persen.

AAJI juga mencatat selama semester I-2020 total jumlah klaim dan manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi melambat 1,9 persen menjadi Rp64,54 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp65,77 triliun.

Jika dibandingkan kuartal pertama, total klaim dan manfaat yang dibayar kuartal II mengalami perlambatan 20,4 persen dari Rp35,92 triliun menjadi Rp28,59 triliun.

"Hal ini kami yakini karena masyarakat makin sadar akan kesehatan dan juga penurunan klaim kesehatan, karena kita lebih mengurangi kegiatan di luar rumah di masa pandemi ini," jelasnya.

Secara rinci, klaim terbesar berasal dari nilai tebus yang mencapai Rp19,91 triliun atau 58,7 persen terhadap total klaim semester I-2020. Hal ini lantaran masyarakat tak hanya mengambil asuransi proteksi melainkan juga investasi.

Sementara menghadapi kondisi pandemi dan sebagai langkah untuk semakin mendorong pertumbuhan industri asuransi jiwa di Indonesia, Budi bilang, AAJI selalu berkoordinasi dengan regulator terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengambil langkah-langkah strategis bagi industri.

Diantaranya dengan mendukung penerapan regulasi yang mendorong inovasi dan digitalisasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, baik dalam hal pemasaran produk asuransi dan pemberian layanan kepada nasabah, termasuk penguatan pengaturan mengenai pemasaran Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) atau UnitLink melalui tatap muka langsung secara digital yang saat ini sudah diperkenankan.

Juga percepatan pembentukan Lembaga Penjamin Pemegang Polis (LPPP) untuk kepastian perlindungan bagi nasabah dan mendorong inklusi dan literasi keuangan melalui berbagai media digital. kbc7

Bagikan artikel ini: