Padat karya mangrove bagi pemulihan ekonomi nasional

Jum'at, 25 September 2020 | 07:23 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah membawa dampak pada menurunnya perekonomian nasional yang membawa pengaruh nyata terhadap penurunan kesejahteraan masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah telah mengambil kebijakan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional melalui berbagai skema kegiatan, diantaranya adalah program padat karya penanaman mangrove melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kepala Balai Pengelolaan DASHL Brantas Sampean, Kunto Hirsilo mengatakan, Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang ke-2 di dunia, Indonesia memiliki potensi hutan mangrove yang cukup besar. Selain sebagai benteng perlindungan terhadap abrasi dan tsunami, ekosistem mangrove memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di wilayah pesisir.

"Adanya kegiatan padat karya penanaman mangrove diharapkan dapat menjadi stimulus perekonomian bagi masyarakat sekitar yang merasakan dampak nyata dari penurunan ekonomi tersebut. Selain itu program ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian ekosistem mangrove," ujar Kunto Hirsilo ketika dikonfirmasi, Surabaya, Kamis (24/9/2020).

Target padat karya mangrove berupa Rehabilitasi Hutan dan Lahan Mangrove di wilayah kerja Balai Pengelolaan DASHL Brantas Sampean meliputi areal seluas 600 ha yang tersebar di 11 Kabupaten/Kota, dengan pembiayaan dari BPDASHL Brantas Sampean.

Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok masyarakat yang pada saat ini masih dalam tahap pembuatan bibit dengan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh yang mengenal betul kondisi lapangan dan masyarakat setempat, serta bimbingan teknis dan pengendalian oleh BPDASHL Brantas Sampean bersama Dinas Kehutanan dan instansi terkait lainnya.

"Kegiatan padat karya mangrove ini dilaksanakan oleh 49 kelompok masyarakat yang terdiri ± 1.225 orang dengan target penyerapan 66.296 HOK, yang dilaksanakan selama sekitar 2 bulan dimana pada awal Desember seluruh kegiatan padat karya tersebut dapat terealisasikan dengan baik," tambahnya.

Pola penanaman mangrove ditentukan berdasarkan kondisi pasang surut air laut dan kesuaian jenis dengan lingkungan setempat. Selain kondisi biofisik wilayah, keterlibatan berbagai lapisan masyarakat merupakan faktor penting dalam setiap tahapan pelaksanaan kegiatan mulai dari penyiapan lahan, pembibitan, sampai penanaman untuk keberhasilan program ini.

Program padat karya mangrove ini diharapkan dapat menjadi langkah awal tidak hanya bagi pemulihan ekonomi namun juga pemulihan ekosistem mangrove. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari corrective measures di Kabinet Kerja 2019 – 2024 yaitu untuk pengendalian dampak perubahan iklim serta keberpihakan kepada masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.kbc6

Bagikan artikel ini: