Terdampak pandemi, gig worker lokal didorong miliki keterampilan dan peluang baru

Rabu, 9 September 2020 | 16:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Para pekerja independen atau gig worker di Indonesia, seperti para pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, penjual online, penyedia jasa rumah tangga, dan kurir pengiriman, diketahui ikut terkena dampak pandemi Covid-19.

Ini merupakan laporan Flourish Ventures, sebuah perusahaan modal ventura global dengan investasi portofolio di Indonesia dan seluruh Asia. Dari 86% responden, menyatakan bahwa penghasilan gig worker telah tergerus.

Laporan Indonesia Spotlight August 2020, yang mencakup respons survei dari 586 pekerja independen atau gig worker di Indonesia, adalah edisi ketiga dari seri laporan Flourish yang dinamakan The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressure. Flourish adalah investor modal ventura global yang berfokus pada investasi Fintech tahap awal, yang membantu orang mendapatkan peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan finansial mereka.

Managing Partner di Flourish, Tilman Ehrbeck menuturkan, dari hasil survei yang dilakukan ditemukan bahwa jumlah pekerja independen atau gig worker di Indonesia dengan penghasilan lebih dari Rp 3 juta per bulan (US $200) mengalami penurunan yang tajam, dari 43% pada Maret 2020 ke hanya 5% pada Juni/Juli 2020. Selain itu, terdapat lonjakan besar dalam jumlah pekerja independen atau gig worker dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta ($70), dari 8% pada Maret 2020 ke 55% pada Juni/Juli 2020.

"74% Responden sangat khawatir tentang Covid-19. Pekerja independen atau gig worker lebih khawatir tentang dampaknya pada mata pencaharian mereka daripada pada kesehatannya," ulasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2020).

Ditambahkan Tilman, pekerjaan yang memerlukan interaksi tatap muka lebih terkena dampaknya. 71% penyedia layanan kesehatan di rumah (seperti mereka yang menawarkan jasa pijat di rumah), 65% pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, dan 55% pengemudi pengiriman telah kehilangan penghasilan. Penjual online dan pekerja rumah tangga lainnya, seperti asisten rumah tangga, tidak terlalu terkena dampaknya.

"Pekerja independen atau gig worker di Indonesia hidup dalam tekanan. Hampir 60% responden menyebut jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama mereka, mereka tidak akan dapat mencukupi pengeluaran rumah tangga mereka dalam satu bulan tanpa meminjam uang," sebut Tilman.

Menurutnya, ekonomi dengan sistem pekerja independen atau gig worker memungkinkan jutaan pekerja dalam sektor informal Indonesia, yang secara historis kurang diperhatikan oleh industri finansial, meresmikan mata pencaharian mereka dan menjadi lebih terhubung ke keuangan digital.

Di sisi lain, gig worker di Indonesia telah dan akan menyesuaikan diri di tengah pandemi Covid-19. Diantaranya dengan mengurangi konsumsi makanan, juga dengan menemukan pekerjaan baru atau pekerjaan tambahan, sebagian besar melalui platform digital, seperti penjualan ritel online atau pekerjaan berdasarkan permintaan.

"Hampir 40% berencana untuk mencari pekerjaan baru dalam bulan-bulan mendatang. Meskipun secara langsung khawatir tentang krisis Covid-19, para pekerja independen atau gig worker di Indonesia juga fokus pada masa depan," beber Tilman.

Global investments advisor di Flourish, Smita Aggarwal menambahkan, pandemi menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pekerja independen atau gig worker di Indonesia, serta kemampuan beradaptasi mereka dan dorongan kewirausahaan mereka dalam menghadapi kesulitan.

"Walaupun pekerja independen atau gig worker telah menunjukkan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi krisis ini, kami percaya terdapat peluang yang berarti untuk platform kerja independen dan Fintechs guna memenuhi kebutuhan finansial pekerja yang belum terpenuhi, dan membantu likuiditas jangka pendek, perlindungan penghasilan, serta resiliensi jangka panjang," jelasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: