Dukung ketahanan pangan, PGN amandemen PJBG dua pabrik pupuk

Senin, 31 Agustus 2020 | 20:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk melalui anak usahanya PT Pertagas Niaga mengamandemen perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan PT Pupuk Kujang dan PT Pupuk Iskandar Muda.

Amandemen PJBG ditandatangani Direktur Utama Pertagas Niaga Linda Sunarti dan Direktur Utama PIM Yanuar Budinorman secara virtual di Jakarta, Senin (31/8/2020). Penandatanganan tersebut disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Plt Dirjen Migas Ego Syahrial, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama PGN Suko Hartono, dan Direktur Utama Pupuk Indonesia (Persero) Bakir Pasaman.

Direktur Utama PGN Suko Hartono mengatakan, dengan perjanjian itu diharapkan dapat menggerakkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat ketahanan energi dan ketahanan pangan di Aceh, Sumatra, dan Jawa bagian barat.

Suko menambahkan, pemenuhan pasokan gas untuk Pupuk Kujang di Jawa Barat memiliki arti penting sebagai milestone bagi PGN dalam mengakselerasi ketahanan energi nasinal. "Soal gas ke Kujang kami memulai integrasi infratstruktur gas dari South Sumatra, West Java, ke West Java punya Pertagas," kata Suko.

Direktur Komersial PGN Faris Aziz mengatakan amandemen PJBG ini sebagai tindak lanjut dari implementasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 89 Tahun 2020 yang mengatur penurunan harga gas bumi di sektor industri tertentu.

"Pupuk Iskandar Muda masuk ke dalam tujuh sektor yang mendapatkan penurunan harga gas menjadi US$6,61 per MMBTU (million british thermal unit)," kata Faris.

Faris mengatakan, berdasarkan amandemen PJBG ini, kebutuhan PIM akan dipasok dari sumber gas Medco dengan volume 54 billion british thermal unit per day (BBTUD) dengan kontrak suplai selama 13 tahun mulai Juni 2020 hingga Mei 2033.

Adapun pengaliran gas Medco ke PIM dilakukan melalui mekanisme operasi yang terintegrasi PGN Grup untuk menjamin kestabilan suplai demand di Sumatra Bagian Utara.

Sementara untuk pabrik pupuk Kujang, disepakati volume sebesar 25 BBTUD. Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman menyebutkan terwujudnya PJBG tersebut tidak lepas dari dorongan dari sektor minyak dan gas bumi (migas) nasional. Menurutnya, dengan perjanjian ini, industri pupuk dapat memperoleh gas alam dengan harga yang lebih kompetitif agar kegiatan operasional lebih optimal dan efisien.

"Harga kompetitif ini memberikan efisiensi subsidi dan dorong subsidi Rp 1,4 triliun efisensi untuk semua Pupuk Indonesia Group," pungkasnya. Kbc11

Bagikan artikel ini: