Bank-bank besar 'pede' kemas kinerja positif di tahun ini

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 07:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski kinerja di semester I/2020 terhambat akibat pandemi Covid-19, bank-bank jumbo alias bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV masih optimistis hingga akhir tahun dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja yang positif meskipun sangat tipis.

Ekonomi nasional yang berangsur pulih, ditambah sejumlah stimulus dari pemerintah jadi pendorongnya.

"Di semester kedua mulai terlihat dampak pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan ekonomi juga kembali pulih meskipun masih jauh dibandingkan kondisi normal. Namun ini sinyal yang baik. Kami pun masih optimistis bisa mencatat pertumbuhan 1%-2% hingga akhir tahun," kata Direktur Keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Vera Eve Liem dalam paparan virtual, Jumat (28/8/2020).

Laba bank swasta terbesar di tanah air ini sendiri sepanjang semester I-2020 lalu tercatat merosot 4,8% (yoy) menjadi Rp 12,24 triliun. Penurunan laba terutama disebabkan pencadangan ekstra yang dilakukan perseroan hingga Rp 6,54 triliun, meningkat 167,3% (yoy) dibandingkan tahun lalu Rp 2,44 triliun.

Laba sebelum provisi yang dicatat BCA sejatinya masih tumbuh baik sebesar 15,8% (yoy) senilai Rp 21,53 triliun. Peningkatan pencadangan, kata Vera, dilakukan guna mengendalikan risiko kredit.

"Loan at risk (LaR) BCA meningkat dari 4,3% menjadi 5,3% semester I-2020, namun ini masih tergolong kecil jika dibandingkan bank lain, karena LaR perbankan  yang melakukan program restrukturisasi pasti berpotensi naik," imbuhnya.

Hingga pertengahan Agustus 2020, BCA tercatat telah memproses permohonan merstrukturisasi kredit terimbas pandemi senilai Rp 117 triliun dari 124.000 debitur. Sedangkan hingga akhir tahun diperkirakan ada sekitar 20%-30% portofolio kredit terimbas pandemi yang perlu direstrukturisasi.

Sementara kredit BCA sepanjang semester I-2020 tercatat Rp 595,13 triliun dengan pertumubuhan 5,3% (yoy). Segmen korporasi, dan pembiayaan syariah via PT Bank BCA syariah jadi penopang pertumbuhan masing-masing 17,7% (yoy), dan 16,2% (yoy). Sementara segmen kredit lainnya tercatat mengalami pertumbuhan yang negatif.

Bank besar lai yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) punya optimisme serupa. Meskipun sepanjang semester I-2020 laba BNI merosot tajam hingga 41,6% (yoy) menjadi Rp 4,45 triliun.

Direktur Manajemen Risiko BNI Osbal Saragi masih optimistis BNI mencatat pertumbuhan laba positif hingga akhir tahun lantaran BNI terhitung aktif memanfaatkan stimulus yang diberikan pemerintah.

Misalnya dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang bisa jadi bekal untuk ekspansi BNI hingga akhir tahun sehingga dapat mempertahankan pertumbuhan laba yang positif di kisaran 2%-3%.

"Ekspansi kami akan lebih hati-hati di semester kedua, strateginya akan mengarah terkait program PEN, atau seiring kebijakan pemerintah yang akan mengakselerasi penyerapan anggaran, sehingga segmen korporasi, menengah, dan kecil pasti akan sangat relevan," kata Osbal.

Dari dana PEN senilai Rp 5 triliun yang ditempatkan di BNI, hingga 24 Agustus 2020 telah disalurkan menjadi kredit senilai Rp 12,03 triliun. Mayoritas dana tersebut disalurkan ke sektor usaha kecil, yakni senilai Rp 6,95 triliun atau 57,8% dari kredit yang dikucurkan dalam rangka PEN.

Sementara sepanjang semester I-2020, BNI tercatat telah mengucurkan kredit senilai Rp  576,77 triliun dengan pertumbuhan 5,0% (yoy). Penopang terbesar berasal dari segmen korporasi swasta, termasuk bisnis internasionalnya alias overseas loan sebesar 12,6% (yoy)

Khusus bisnis internasional, pertumbuhan kreditnya bahkan mencapai 17,1% (yoy). Segmen ini juga akan jadi andalan buat menambah profit hingga akhir tahun. Asal tahu, kanor cabang luar negeri BNI bahkan menyumbang Rp 907,4 miliar dengan pertumbuhan hingga 77,2% (yoy) terhadap laba konsolidasi perseroan.

Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Haru Koemahargyo agak pesimistis bisa mencatat pertumbuhan positif.

Haru bilang, laba BRI di semester II-2020 ditaksir tak akan melebihi yang diperoleh pada paruh pertama 2020. Pun guna memitigasi risiko akibat pandemi, BRI juga masih akan menambah pencandangan

"Kami akan mengalokasikan sebagian pendapatan untuk jadi pencadangan sebagai bantalan risiko di tengah ketidakpastian yang masih ada," katanya dalam paparan publik pekan lalu.

Sepanjang semester I-2020, laba bank terbesar di tanah air ini tercatat merosot 36,9% (yoy) menjadi Rp 10,20 trliun. Sementara pencadangan yang dibentuk meningkat 35,24% (yoy) menjadi Rp 51,8 triliun atau setara 200,3% dari nilai kredit macet Rp 25,9 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: