Indonesia genjot ekspor udang di tengah pandemi

Rabu, 19 Agustus 2020 | 20:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berupaya menggenjot ekspor produk perikanan terutama komodias udang guna menjaga momentum kosongnya bahan baku akibat  pandemi Covid-19. Ini terjadi lantaran, sejumlah negara kompetitor tidak menerapkan produksi menyusul penerapan lock down.

“Sekarang permintaan udang di pasar dunia seperti Amerika Serikat sangat tinggi. Karena India tidak melakukan produksi karena lock down.Ini momentum yang bagus,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam peluncuran Pasar Laut Indonesia di Jakarta yang diunggah channel Youtube, Rabu (19/8/2020).

Edhy mengilustrasikan udang vanamae ukurang 100 sudah dihargai kembali Rp 50.000 per kilogram (kg). Padahal, di awal penyebaran pandemi di Tanah Air juga menyebabkan harga udang vanamae berada di harga Rp 30.000 per kg.” Ini artinya orang butuh udang dan Indonesia tidak menghentikan sedikit pun produksi selama pandemi,”ujar Edhy.

Edhy meyakini Indonesia dapat mengambil  peluang dari situasi pandemi saat ini .Pasalnya produksi udang Indonesia baru mencacpai 1 juta ton per tahun. Padahal, permintaan global mencapai 13 juta ton.

Ditambahkannya, kunci menembus komoditas perikanan di pasar global adalah mutu yang terjaga sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan negara pengimpor. Edhy menambahkan guna merealisasikan hal tersebut dibutuhkan kerjasama semua pemangku kepentingan.

Meski begitu Edhy mengakui banyak pembudidaya yang masih takut melakukan budidaya karena khawatir terpapar covid 19. Selain itu, membuat tambak udang membutuhkan invetasi ,teknologi dan manajemen yang mumpuni.

Menurutnya budidaya udang memiliki resiko gagal panen yang tinggi . Ini disebabkan proses ganti kulit udang yang menyebabkan air tambak menjadi keruh. ”Seekor udang dari proses tebar benih sampai panen minimal tujuh kali ganti kulit,” kata dia.

Nelayan juga kesulitan mengembangkan budidaya udangnya, karna beratnya persyaratan akses kredit yang dibuat perbankan. Pasalnya, untuk membuat tambak berikut infrastrukturnya membutuhkan permodalan Rp 1,5 miliar. Sementara aset tambak yang sudah beroperasi pun tidak dapat dijadikan agunan.

 “Kami sudah berkomunikasi dengan Otoritasi Jasa Keuangan dan Kementerian keuangan untuk memberikan kelonggaran. Kini, Bank Negara Indonesia sudah komitmen menyediakan pagu Rp 9 triliun untuk sektor budidaya perikanan,”klaimnya.

Kesempatan sama, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pemerintah akan mendorong masyarakat untuk mengonsumsi ikan laut, termasuk udang guna menurunkan impor daging sapi. Budidaya sapi di Indonesia kian sulit karena keterbatasan lahan, sedangkan potensi perikanan masih sangat besar

“Di tengah pandemi corona ternyata konsumsi ikan masih tumbuh 3,1% dan lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi protein lainnya yang hanya 2,1%,” kata Teten.

Adapun guna membantu dari sisi permodalan, pihakya akan mendorong melayan untuk bergabung dalam koperasi. Dengan itu, diharapkan produksi dapat lebih efisien dan hasil panen meningkat. "Sekarang harus mengubah bagaimana nelayan-nelayan perorangan menjadi berkelompok dan berkoperasi lalu usaha kecil konsolidasi menjadi berskala lebih besar," kata dia.

Catatan KKP, ekspor perikanan selama satu semester 2020 mengalami kenaikan 6,9% atau sebesar US$2,4 miliar.Sementara dari volume ekspor tercatat 596.000 ton (naik 8,3%).KKP menargetkan ekspor komoditas udang pada 2024 meningkat hingga 250%. KKP juga membuat peta jalan (Roadmap) Pengembangan Udang Nasional untuk memastikan target yang telah ditetapkan dapat terwujud.kbc11

Bagikan artikel ini: