Terhempas pandemi, Cathay Pacific alami kerugian Rp18,8 triliun di semester I

Jum'at, 14 Agustus 2020 | 14:53 WIB ET

HONG KONG, kabarbisnis.com: Maskapai penerbangan asal Hong Kong, Cathay Pacific Airways, melaporkan rekor kerugian sebesar 9,9 miliar dollar Hong Kong atau sekitar Rp 18,8 triliun (kurs Rp 1.903 per dollar Hong Kong) pada semester I/2020.

Cathay Pacific pun memperingatkan, memburuknya kondisi ekonomi dan geopolitik akan terus melemahkan permintaan penumpang dan mengganggu bisnis kargo maskapai.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (13/8/2020), pihak Cathay Pacific menyatakan, selain pandemi virus corona (Covid-19), resesi global dan memanasnya ketegangan diplomatik akan memberikan dampak negatif bagi operasional maskapai.

"Enam bulan pertama tahun 2020 adalah (periode) paling menantang yang dihadapi Cathay Pacific Group sepanjang sejarahnya yang mencapai lebih dari 70 tahun," kata pimpinan Cathay Pacific Patric Healy.

"Dampak Covid-19 terhadap bisnis grup dan ekonomi global belum pernah terjadi sebelumnya," imbuh Healy.

Sebelum mengalami kerugian, Cathay Pacific melaporkan laba bersih sebesar 1,34 miliar dollar Hong Kong atau setara sekira Rp 2,5 triliun.

Adapun bisnis kargo menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi maskapai tersebut ketimbang pendapatan dari penumpang pada semester I 2020.

Cathay Pacific pun tengah melakukan serangkaian upaya restrukturisasi, termasuk di antaranya pemangkasan jumlah pegawai, serta pengurangan jumlah pesawat dan rute penerbangan segera setelah pandemi berakhir.

Meski demikian, pemulihan industri penerbangan global diprediksi memakan waktu empat tahun.

Healy pun menegaskan, pemulihan bisnis ke level sebelum pandemi virus corona akan berlangsung lambat.

"Kami tidak mengekspektasikan pemulihan berarti dalam bisnis penumpang dalam waktu dekat," tuturnya.

Pada Juni 2020 lalu, otoritas Hong Kong mengumumkan kucuran dana sebesar Rp 70 triliun untuk menyelamatkan Cathay Pacific.

Pendapatan penerbangan komersial dan jumlah penumpang harian Cathay Pacific anjlok 99 persen pada tahun ini, disebabkan gelombang unjuk rasa anti pemerintah dan pandemi virus corona.

Pun AS dan China berada di tengah konflik diplomatik terkait status Hong Kong, yang turut berdampak pada bisnis maskapai tersebut. kbc10

Bagikan artikel ini: