Menko Airlangga ramal pertumbuhan ekonomi RI tahun ini hanya minus 0,49 persen

Rabu, 12 Agustus 2020 | 12:36 WIB ET
Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memprediksi perekonomian Indonesia selama tahun 2020 tumbuh minus 0,49 persen sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Diharapkan di kuartal ketiga bisa membaik dengan prediksi minus dua, minus satu atau bahkan kita berharap bisa masuk positif,” kata Airlangga seperti dikutip, Rabu (12/8/2020).

Dalam pemaparan terkait pertumbuhan ekonomi sejumlah negara termasuk Indonesia, Airlangga memperkirakan perekonomian Indonesia pada kuartal III-2020 mencapai minus 1 persen. Kemudian, kuartal IV-2020 diperkirakan membaik menjadi positif 1,38 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi selama 2020 diperkirakan negatif 0,49 persen. 

Airlangga menyebut, dampak Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan negara lain.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua negatif 5,32 persen, merosot dibandingkan kuartal pertama mencapai 2,97 persen.

Meski begitu, lanjut dia, negara lain pada kuartal kedua tahun ini juga tumbuh negatif namun jauh lebih dalam dibandingkan Indonesia. Ia mencontohkan Amerika Serikat pada kuartal kedua perekonomiannya tumbuh negatif 9,5 persen, kemudian Inggris dan Prancis negatif 19,9 persen dan 19 persen bahkan keduanya sudah mengalami resesi. 

Sebagian besar negara di Eropa pertumbuhan ekonominya, lanjut dia, tumbuh negatif pada kuartal kedua begitu juga di Brazil, Argentina, dan India yang jatuh lebih dalam negatif 18,92 persen.

“Oleh karena itu kita harus dorong belanja pemerintah ataupun spending masyarakat diberi rasa nyaman dan aman itu yang paling penting agar spending itu bisa berjalan,” kata dia.

Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 695,2 triliun untuk biaya penanganan Covid-19 termasuk pemulihan ekonomi nasional. Saat ini, BUMN Bio Farma sedang melakukan uji klinis kandidat vaksin Covid-19 bekerja sama dengan Sinovac dari China.

“Kita berharap ini berhasil maka kita sudah bisa akses vaksin dan ini akan diproduksi Bio Farma dan tiga-empat vaksin juga didorong dengan Kalbe dengan Korea dan juga salah satu melalui Melinda Gates Foundation atau CEPI yang akan akses di Oxford,” kata Airlangga. 

Dia mengatakan, perbaikan indikator perekonomian meliputi peningkatan purchasing manager index (PMI) manufaktur yang telah mencapai level 46,9 serta Indeks Keyakinan Konsumsi (IKK) yang mengalami peningkatan dari 77 menjadi 83,8.

"Kemudian beberapa sektor emiten membukukan positif, jadi ini dilihat bahwa terjadi bottom out ekonomi nasional. Demikian sektor kendaraan bermotor ada kenaikan dari -82 menjadi -64," ujar Airlangga.

Dia menuturkan, perbaikan bisa dicapai dengan memperkuat realisasi jaring pengaman sosial (social safety net) baik dalam bentuk barang melalui bantuan sosial (bansos) maupun uang tunai.

Begitu juga dengan dukungan yang dikucurkan untuk dunia usaha, seperti subsidi bunga untuk ultra mikro dan UMKM, pengelolaan persyaratan kredit UMKM, penempatan dana, penjaminan kredit modal kerja, dan insentif pajak.

"Tentu kita juga berharap ada efek perbaikan (dalam ekspor impor) melalui perekonomian global, baik China maupun negara lain yang recover terlebih dahulu," tutur Airlangga. kbc10

Bagikan artikel ini: