Agar terhindar dari resesi, RI harus mampu kendalikan penyebaran Covid-19

Jum'at, 7 Agustus 2020 | 20:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Jika ingin terhindar dari resesi ekonomi , dibutuhkan upaya ekstra keras bagi Indonesia mengembalikan pertumbuhan ekonomi positif di kuartal ketiga tahun ini.

Board member Center for Indonesian Policiy Studie (CIPS) Rianto Patunru mengatakan upaya pemulihan perekonomian hanya bisa dilakukan jika ada upaya serius untuk menahan laju penyebaran Covid-19. Hal ini sangat penting dilakukan karena krisis ekonomi kali ini diawali dengan pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia.

"Harus tetap waspada terutama distribusi bahan esensial seperti pangan tetap terjaga. Stimulus dari pemerintah lewat bantuan sosial bertujuan untuk menjaga daya beli untuk konsumsi pokok masyarakat. Kedepannya untuk stimulus usaha," ujar Rianto di Jakarta, Jumat (7/8/2020).

Rianto mengatakan berbeda dengan krisis keuangan yang terjadi sebelumnya - krisis keuangan Asia 1997-1998 dan krisis keuangan global 2008. Semengara krisis keuangan kali ini diawali dengan krisis kesehatan yang melemahkan, tidak hanya permintaan, tetapi juga penawaran yang pada akhirnya berlanjut menjadi krisis ekonomi.

Menurut Rianto, krisis Covid-19 memengaruhi permintaan mulai dari tidak dapat belanja, tidak berani belanja hingga adanya penurunan pendapatan dan penawaran, karena adanya pembatasan dan tidak ada kegiatan yang menyebabkan turunnya output.Krisis keuangan sebelumnya, lebih banyak berdampak pada permintaan karena penurunan pendapatan sehingga pemerintah memberikan bantuan berupa stimulus.

Dia melihat goncangan yang berbarengan di penawaran dan permintaan. "Mungkin inflasi kali ini tidak akan setinggi krisis sebelumnya. Tapi tetap ada kemungkinan barang-barang tertentu, karena langka, akan mengalami kenaikan harga karena ada penimbunan dan tidak meratanya akses," tegas Rianto.

Rianto menegaskan, pemerintah perlu terus berhati-hati. Memulihkan perekonomian tidak dapat dilakukan tanpa berusaha memulihkan kesehatan yang artinya, pemerintah perlu memfokuskan perhatian kepada upaya mengurangi sekaligus mengendalikan laju penyebaran virus Covid-19.

Menurutnya, hal ini dapat dilakukan, diantaranya dengan memperbanyak test, mempertegas aturan jaga jarak dan menggalakkan kebijakan pembatasan. Baru kemudian perekonomian dapat berangsur dipulihkan.

"Pemerintah juga dapat memulai upaya pemulihan lewat sektor yang memiliki tingkat untuk sentuhan fisik minimal, misalnya pertanian karena pertanian lebih berdaya tahan ketimbang pariwisata. Bagi sektor yang masih terkendala kebijakan pembatasan, perlu mekanisme kompensasi," ujar Rianto.

Dia menyebutkan, apabila mengacu kepada definisi resesi, yaitu keadaan di mana pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut, Indonesia memang belum memasuki masa resesi. Namun, diakui saat ini kondisi Tanah Air sudah sangat riskan, yaitu berada di jurang resesi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I/2020 sudah menunjukkan pelambatan yaitu hanya mencapai 2,9 %. Sementara pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2020 menjadi negatif, yaitu -5,3%. Menurutnya, kontraksi ekonomi kali ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara di dunia.

Namun pertumbuhan yang -5,32% ini adalah yang terparah sejak krisis keuangan Asia 1997-1998.Dia berharap semua pihak perlu berhati-hati pada kemungkinan depresi.Resesi ekonomi terakhir terjadi tahun 1930-an, yang dikenal sebagai Great Depression, merupakan akumulasi dari resesi berkepanjangan yang terjadi bukan hanya dua kuartal, tapi bertahun-tahun.

"Hal ini sebisa mungkin harus kita hindari. Sebagai gambaran, pertumbuhan ekonomi negatif di Indonesia sehubungan dengan Asian Financial Crisis adalah lima kuartal. Semoga saja kali ini kita bisa menghindari kejatuhan yang lebih parah," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: