Kinerja emiten properti diprediksi masih tertekan di semester II

Kamis, 6 Agustus 2020 | 11:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 diperkirakan masih membayangi pasar properti di Tanah Air. Kinerja emiten sektor properti memang tercatat turun sepanjang semester I-2020. Dari sekitar 53 emiten properti yang telah melaporkan kinerja, pendapatan dan laba 34 emiten tertekan. 

Sebut saja pendapatan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang turun 18,32% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 2,18 triliun. Laba bersih SMRA turun 93,15% yoy menjadi Rp 10,2 miliar. Pendapatan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) turun 10,84% yoy menjadi Rp 2,8 triliun dan laba bersih turun 42,82% yoy menjadi Rp 169,51 miliar. 

Dari sisi pendapatan pra-penjualan (marketing sales), CTRA juga turun dari Rp 2,4 triliun di semester I-2019 menjadi Rp 2 triliun di semester I-2020. Kondisi ini diikuti oleh PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) yang pendapatan, laba bersih, dan marketing sales melorot. Pendapatan DMAS turun 74,36% yoy menjadi Rp 252,59 miliar, laba bersih turun 87,38% yoy menjadi Rp 78,94 miliar dan marketing sales turun dari Rp 1,22 triliun menjadi Rp 1,05 triliun. 

Hanya PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang masih mencatatkan kenaikan perolehan marketing sales dari Rp 2,7 triliun menjadi Rp 2,9 triliun di semester I-2020. Sementara pendapatan dan laba bersih emiten properti Grup Sinarmas ini juga turun. Pendapatan BSDE turun 35,09% yoy menjadi Rp 2,34 triliun dan mengalami kerugian Rp 89,3 miliar. 

Analis Sucor Sekuritas Joey Faustian memprediksi, kinerja sektor properti di separuh kedua tahun ini masih akan kurang baik. Namun bila dibandingkan dengan semester satu lalu masih akan ada sedikit pemulihan. 

Hal ini didukung oleh pulihnya pendapatan berulang (recurring income) pengembang properti dari pembukaan pusat belanja dan hotel meski kapasitas di pusat belanja hanya sekitar 50% dari kapasitas normal. Selain itu, Joey juga melihat adanya promo dan peluncuran produk baru yang lebih agresif dari para pengembang properti di semester II-2020. Apalagi bunga KPR lebih rendah akibat penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). 

"Prospek kinerja lebih baik didukung juga oleh strategi para developer yang fokus pada peluncuran produk-produk baru yang mempunyai harga terjangkau sekitar Rp 2 miliar yang permintaannya lebih resilient karena dibeli untuk dipakai atau end user," jelas Joey seperti dikutip, Rabu (5/8/2020). 

Dengan kondisi tersebut, Joey masih merekomendasikan saham CTRA dan DMAS. Menurut dia, saat ini simpanan pendapatan CTRA masih cukup banyak yaitu sebesar Rp 12 triliun atau setara 2,3x dari revenue multiple. Selain itu CTRA memiliki proyek yang cukup tersebar berada di 75 lokasi dalam 33 kota yang mengurangi risiko pada area tertentu saja. 

Dari segi nilai properti yang dijual, CTRA juga memiliki portofolio di bawah Rp 2 miliar yang paling banyak yaitu sekitar 73%. Sedangkan BSDE hanya 71% dan SMRA hanya 68%. "Disertai tingkat utang yang baik dengan net gearing 32% dari rata-rata sektor 43%," imbuh Joey. 

DMAS juga dinilai memiliki simpanan pendapatan yang cukup yaitu sekitar Rp 1,4 triliun, dan diperkirakan sekitar 70% bakal diakui di tahun ini. Di sisi lain DMAS juga tidak memiliki utang sama sekali alias zero-debt. "Memiliki landbank terbesar yang sepenuhnya dikuasai di Jawa Barat sekitar 1.200 hektare membuat mereka bisa mengakomodasi kebutuhan penjualan lahan di atas 30 hektare," ujar Joey. 

Adapun dalam satu tahun ke depan Joey menargetkan harga saham CTRA mencapai Rp 1.000 dan DMAS mencapai Rp 300 per saham. Rabu (5/8), harga CTRA ditutup pada level Rp 650 per saham dan DMAS pada level Rp 230 per saham. kbc10

Bagikan artikel ini: