Perusahaan multifinance kaji stop restrukturisasi pinjaman

Senin, 3 Agustus 2020 | 21:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perusahaan pembiayaan atau multifinance cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan program, salah satunya restrukturisasi pembiayaan.

Berbeda dengan perbankan, multifinance hanya mengandalkan penyaluran pembiayaan. Seretnya aliran kas masuk, akan berdampak terhadap pembiayaan baru yang keluar dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat non-performing financing (NPF), hingga kinerja laba-rugi perusahaan.

Presiden Direktur CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman menjelaskan bahwa seluruh perusahaan pembiayaan pasti merasakan hal yang sama.

"Cash flow perusahaan pembiayaan adalah tantangan terberat dampak dari restrukturisasi tersebut. Tapi CNAF akan bersama dengan nasabah dalam berbagai kondisi, dan memastikan akan tetap bersama nasabah untuk terus membantu nasabah keluar dari kesulitan akibat kondisi pandemi seperti sekarang ini," katanya seperti dikutip, Senin (3/8/2020).

Ristiawan mencatat, hingga kini pihaknnya telah merealisasikan restrukturisasi dengan nilai di kisaran Rp1 triliun dari 9.331 nasabah yang mengajukan, atau setara sekitar 20% dari total nasabah yang dikelola CNAF saat ini.

Terkait dengan batas akhir pemberian program restrukturisasi, Ristiawan mengaku pihaknya memang tengah menimbang-nimbang apakah hal ini bisa terlaksana dalam waktu dekat. 

"Mengingat secara jumlah nasabah, tanpa diumumkan pun sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan awal-awal diumumkannya program restrukturisasi. Itu menandakan yang tersisa adalah nasabah yang memang tidak terdampak pandemi Covid-19," ungkapnya. 

Ristiawan berharap sisa nasabah yang tak mengajukan restrukturisasi dan masih mempunyai kesadaran yang baik untuk tetap melakukan pembayaran cicilan sesuai perjanjian masih bisa bertahan, sehingga CNAF bisa mendongkrak realisasi pembiayaan baru secara maksimal.

Hal senada diungkap Direktur Sales dan Distribusi PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo yang mengungkap bahwa semakin sepinya pengajuan restrukturisasi merupakan angin segar bagi perusahaan pembiayaan.

Kendati telah mengumumkan batas akhir restrukturisasi pada 2 Juli 2020 lalu, MTF mengaku masih bisa membantu nasabah yang nantinya membutuhkan program restrukturisasi untuk diterima, walaupun berbeda dengan jalur khusus restrukturisasi akibat pandemi Covid-19.

"Permohonan restrukturisasi turun banyak di bulan Juli kemarin. MTF sebenarnya telah mengumumkan secara official 2 Juli, tetapi ketika masih ada pengajuan, kami evaluasi kasus per kasus. Kami bisa kasih kebijakan restrukturisasi, tetapi bukan karena Covid-19, melainkan penyelamatan kredit," ungkapnya.

Harjanto mengungkapkan, hingga kini MTF telah merealisasikan pengajuan restrukturisasi lebih dari Rp13,5 triliun dari sekitar 71.000 kostumer dengan 86.000 unit kendaraan.

Sementara Direktur Utama PT BCA Finance Roni Haslim mengaku telah menghentikan program pengajuan restrukturisasi lebih dini, di tengah tren menurunnya permintaan dari nasabah.

"Kami sudah stop penerimaan pengajuan baru per 2 Juli 2020 karena memang animo sudah hampir tidak ada lagi. Sekarang tinggal fokus menuntaskan yang sedang diproses," ujarnya.

Pengajuan restrukturisasi yang diterima BCA Finance mencapai lebih dari 126.000 orang dengan nilai mencapai Rp11,8 triliun. 

Sementara yang telah disetujui masih di angka 117.000 orang dengan nilai Rp11 triliun, sementara yang telah terealisasi atau sudah tuntas addendum kontraknya dan sudah dicatat sistem mencapai kisaran 86.000 orang dengan nilai Rp8,3 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: