Kunjungan pasien susut, pendapatan Mitra Keluarga drop 8,86 persen

Senin, 3 Agustus 2020 | 11:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Emiten rumah sakit PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang semester I/2020.

Perseroan mengantongi pendapatan bersih hingga Rp 1,44 triliun di enam bulan pertama 2020. Pendapatan ini turun 8,86% dibanding dengan semester I/2019 yang mencapai Rp 1,58 triliun.

Penurunan pendapatan di semester I/2020 ini dipicu oleh langkah pemerintah dalam mengontrol penyebaran virus Covid-19 di Indonesia dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada bulan April 2020. Cepatnya penyebaran virus menyebabkan kekhawatiran masyarakat untuk melakukan perawatan medis di fasilitas kesehatan.

Di saat yang sama, beberapa dokter di Mitra Keluarga juga mengurangi jam praktik di rumahsakit. Akibatnya, trafik pasien Mitra Keluarga turun hingga dua digit. Mengutip data dari website resmi MIKA, di semester I 2020 volume rawat inap dan rawat jalan turun masing-masing 11,43% dan 19,72% secara tahunan atau year on year (yoy).

Akan tetapi, Investor Relation Mitra Keluarga Karyasehat Aditya Widjaja bilang, sejak bulan Juni kondisi tersebut mulai membaik. Jumlah pasien mulai meningkat ketimbang di bulan April dan Mei. Perbaikan kondisi tersebut didorong relaksasi PSBB dan penambahan jam praktik dari dokter yang sebelumnya sempat dikurangi.

Untuk kinerja MIKA hingga akhir tahun, Aditya bilang belum memiliki proyeksi sebab kondisi hingga saat ini masih belum menentu. Yang jelas, sejauh ini pihaknya akan menangkap peluang yang ada dengan merawat pasien Covid-19. Di sisi lain, MIKA memaksimalkan potensi dari screening Covid-19 test seperti rapid dan swab.

Mengutip dari website resminya, MIKA berinisiatif membangun Rumah Screening yang terpisah dari gedung rumahsakit utama untuk menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan pernafasan sebagai bagian dari tindakan pengendalian penyebaran virus. Sejauh ini, Mitra Keluarga telah merawat lebih dari 2.500 pasien positif dan PDP Covid-19, melakukan lebih dari 110.000 tes Rapid dan lebih dari 18.000 tes PCR.

MIKA juga memaksimalkan penggunaan telekonsultasi sebagai alternatif baru bagi pasien yang enggan ke rumahsakit. "Cost juga dilakukan efisiensi untuk menjaga penurunan margin agar tidak terlalu besar penurunannya," kata Aditya, baru-baru ini.

Adapun beberapa inisiatif efisiensi yang dilakukan MIKA seperti pembekuan perekrutan karyawan dan pemutusan hubungan kerja dengan karyawan baru yang dalam masa percobaan. Hasilnya, pengeluaran gaji telah berkurang sekitar 10% setiap bulan. kbc10

Bagikan artikel ini: