BCA dukung restrukturisasi kredit diperpanjang, ini alasannya

Rabu, 29 Juli 2020 | 13:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 tentang restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 memberikan stimulus bagi debitur perbankan yang terkena dampak Covid-19 untuk mengajukan keringanan.

Selain bermanfaat bagi debitur, aturan tersebut juga memberikan relaksasi kredit bagi perbankan, dengan kata lain seluruh kredit yang direstrukturisasi akibat Covid-19 boleh dikategorikan sebagai kredit lancar (kolektabilitas 1). Artinya, bank tidak perlu membuat pencadangan. 

Hanya saja, aturan ini hanya berlaku sampai 31 Maret 2021 saja atau satu tahun. Kabar baiknya, OJK telah membuka peluang untuk memperpanjang masa berlaku POJK tersebut. 

Presiden Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja megaku mendukung rencana perpanjangan program restrukturisasi kredit. "Saya mendukung usulan itu," jelas Jahja dalam Konferensi Pers Virtual, Senin (27/7/2020). 

Alasannya, menurut Jahja dengan diperpanjangnya masa restrukturisasi akan membuka ruang bagi perbankan untuk menyusun perencanaan setelah pemberian restrukturisasi kredit rampung.

Semisal, mengelola kembali arus kas (cashflow) dan beberapa indikator keuangan lainnya seperti pembentukan pencadangan. "Kami harapkan sekali perpanjangan agar bank punya cukup waktu untuk berbenah sesuai kapasitas masing-masing," terangnya. 

Sekadar informasi saja, menurut data OJK sampai dengan 13 Juli 2020, ada sebanyak 6,75 juta debitur yang telah diberikan keringanan kredit oleh perbankan dengan total baki debet mencapai Rp 776,99 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: