Tinggalkan cara lama, kunci hadapi adaptasi kebiasaan baru

Kamis, 23 Juli 2020 | 05:52 WIB ET

JAKARTA - Pendekatan dengan cara lama tidak bisa digunakan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk mengubah pola pendekatan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini. Peran itu berupa peningkatan kesadaran mahasiswa dan masyarakat agar disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Dalam penanganan pandemi ini, peran akademisi atau perguruan tinggi sangat penting dalam melakukan kajian data dan fakta di lapangan sebagai bahan pengambilan keputusan.  ““Cara-cara dan pola lama harus ditinggalkan sehingga semuanya menjadi efektif dan efisien,” papar Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko, pada seminar nasional daring dengan tema “Peran Perguruan Tinggi di Era Adaptasi Kebiasaan Baru”, belum lama ini.

Moeldoko menjelaskan, pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh aspek kehidupan.  Untuk menangani hal ini, perlu didukung oleh semua elemen, secara bersama-sama, tidak bisa dilakukan satu pihak.  Unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, dunia usaha dan media harus bersatu membangun kebersamaan dalam penanganan Covid-19. “Inilah yang dinamakan konsep pentahelix penanganan Covid-19,” tegasnya. 

Dalam penanganan pandemi ini, peran akademisi adalah mengkaji data dan fakta di lapangan sebagai bahan pengambilan keputusan. Dalam penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi melakukan penelitian terkait vaksin, obat-obatan dan alat kesehatan pendukung pemulihan pasien Covid-19. Penelitian dilakukan sebagai bahan masukan kajian pemerintah dalam mengedukasi masyarakat mengenai AKB.

Adapun proses pembelajaran di masa AKB ini dilakukan secara tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat dan persyaratan kondisi yang direkomendasikan oleh Gugus Tugas. Selain itu, penanganan dan pencegahan Covid-19 juga terus dilakukan di lingkungan satuan pendidikan. “Pembelajaran jarak jauh dilakukan dengan mengoptimalkan kemajuan teknologi informasi.”

Pada kesempatan yang sama, Moeldoko menjelaskan mengenai konsep Indonesia Maju yaitu Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya. Indonesia yang demokratis dimana hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Indonesia yang setiap warga negaranya memiliki hak yang sama di depan hukum. Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Terakhir, Indonesia yang mampu menjaga dan mengamankan bangsa dan negara dalam dunia yang semakin kompetitif. 

Guru Besar Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Maria V. Roesminingsih menekankan, pendidikan dalam keluarga  harus dilakukan dengan prinsip cinta dan kasih sayang. “Orangtua jangan sampai merasa bosan membimbing anak untuk menyiapkan manusia berkualitas di masa depan,” ujarnya. kbc9

Bagikan artikel ini: