Pasar properti tertekan pandemi, Intiland Development ekspansi kawasan industri Batang

Rabu, 15 Juli 2020 | 16:08 WIB ET
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development Archied Noto Pradono (kiri) bersama Corporate Secretary Intiland Theresia Rustandi.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development Archied Noto Pradono (kiri) bersama Corporate Secretary Intiland Theresia Rustandi.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Emiten pengembang properti PT Intiland Development Tbk tengah menyiapkan ekspansi kawasan indusri di Batang, Jawa Tengah yang saat ini tengah didorong pemerintah.

Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya perseroan mendongkrak kinerja di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan, industri properti menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Banyak konsumen dan investor properti cenderung bersikap menunggu kondisi membaik dan memilih untuk menunda dulu pembelian. 

“Hampir semua developer menghadapi tantangan yang cukup berat, termasuk dampak dari pandemi Covid-19 . Meskipun daya beli pasar tetap ada, konsumen memilih untuk menunda pembelian atau investasi. Penjualan properti masih didominasi pasar end user, terutama di segmen menegah ke bawah,” kata Archied pada paparan publik usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan secara virtual, Rabu (15/7/2020).

Meski masih dibekap pandemi, lanjut dia, perseroan tetap melakukan ekspansi, saah satunya proyek kawasan industri di Batang, yang rencananya akan diluncurkan pada semester II/2020 mendatang.

"Kita memiliki landbank sekitar 2.000 hektare diantaranya berlokasi di Batang yang disiapkan untuk kawasan industri. Dalam waktu dekat akan ada pembangunan infrastruktur di sana dan kita juga dalam tahap menawarkan ke investor," ungkap Archied.

Dikatakannya, selama ini bisnis perseroan bertumpu pada empat divisi, yakni high rise building, low rise building, reccuring income, dan kawasan industri.

Adapun, pada bisnis kawasan Industri, perseroan sudah memiliki 500 ha lahan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto di Jawa Timur. Dari total luas lahan tersebut, lanjut dia, lahan yang telah dikembangkan mencapai 400 ha. 

Khusus untuk Batang, saat ini memang menjadi perhatian karena tengah menyiapkan Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah seluas total 4.000 hektar.

Selain kawasan industri Batang, Archied menjelaskan, pada semester II/2020 ini perseroan juga bakal mengembangkan proyek eksisting di Jakarta dan Surabaya, yakni Talaga Bestari, Serenia Hills di Jakarta, dan proyek perumahan Graha Natura di Surabaya.

“Mempertimbangkan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, kami akan cenderung menempuh langkah konservatif dalam memutuskan setiap pengembangan proyek baru.” ujarnya. 

Archied meproyeksikan, industri properti masih akan menghadapi tantangan cukup berat dalam enam bulan ke depan. Kondisi darurat akibat pandemik penyebaran Covid-19 telah secara langsung menciptakan dampak negatif terhadap kondisi perekonomian serta upaya pemulihan sektor properti nasional. 

Sementara itu di tengah tantangan yang terjadi di industri properti, perseroan masih berhasil mempertahankan kinerja usaha. Sampai akhir kuartal I tahun ini, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp830,6 miliar, atau turun 6,4 persen dibandingkan kurtal I/2019 senilai Rp887,6 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya pengakuan pendapatan dari segmen mixed-use & high rise dan kawasan perumahan. 

Pendapatan pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi terbesar, yakni mencapai Rp546,8 miliar atau 82,3 persen dari keseluruhan. Perolehan tersebut bersumber dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise senilai Rp455,1 miliar dan kawasan perumahan sebesar Rp91,7 miliar. 

“Di triwulan pertama tahun ini, kami juga melakukan penjualan lahan seluas 3,2 hektar di Surabaya senilai Rp58,3 miliar. Lahan ini masuk kategori inventori dan bukan termasuk aset utama yang akan dikembangkan dalam waktu dekat,” ungkap Archied. 

Perseroan juga memperoleh pendapatan usaha yang bersumber dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) sebesar Rp159,6 miliar atau 17,7 persen dari keseluruhan. Pendapatan usaha dari segmen ini meningkat 1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp157,1 miliar. 

Perseroan tercatat membukukan laba usaha sebesar Rp234,9 miliar atau meningkat 27,6 persen dibandingkan perolehan triwulan I tahun 2019. Peningkatan ini mendorong perolehan laba bersih sebesar Rp84,4 miliar atau melonjak 74,4 persen dibandingkan triwulan I tahun lalu senilai Rp48,4 miliar.

Tak bagi dividen

Sementara itu dalam RUPST tersebut, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi akibat pandemi Covid-19 serta rencana usaha tahun ini, perseroan memutuskan untuk belum membagikan dividen atas laba yang diperoleh tahun 2019. Seluruh laba bersih yang sebesar Rp 251,4 miliar akan digunakan sebagai laba ditahan sebesar Rp249,4 miliar dan sisanya sebesar Rp2 miliar sebagai cadangan wajib. 

Dalam agenda perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, Wakil Presiden Direktur Perseroan Sinarto Dharmawan menduduki posisi baru sebagai Komisaris Utama. Keanggotaan Dewan Komisaris juga bertambah dengan penunjukan Friso Palilingan selaku Komisaris Independen. 

Friso Palilingan sebelumnya menjabat sebagai anggota Komite Audit Perseroan sejak tahun 2013. 

Beliau memiliki pengalaman panjang di bidang keuangan dan akuntansi. Peraih gelar master di bidang akuntansi dari Kwik Kian Gie School of Business ini menjabat sebagai Rekan di PKF Indonesia dan anggota Dewan Standar Akutansi Keuangan di Ikatan Akuntan Indonesia. kbc7

Bagikan artikel ini: