Upaya pemerintah selamatkan UMKM terdampak pandemi dinilai belum maksimal

Minggu, 12 Juli 2020 | 10:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menilai, upaya pemerintah dalam menyelamatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari dampak pandemi Covid-19 belum optimal.

Menurutnya, pemerintah hanya fokus menyediakan dana stimulus, namun tidak memikirkan pasar bagi UMKM.

"Sederhananya begini, kalau orang sulit dan menghadapi aktivitas atau UMKM biasanya bisa berjualan bekerja dan berproduksi dia mampu, tapi tidak ada (pasarnya) maka yang harus diselesaikan bagaimana menciptakan demand bagaimana ada yang beli," kata dia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Enny menilai, selama ini pemerintah hanya terfokus pada program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dianggap bisa menyelesaikan semuanya. Padahal, kata dia, itu bukanlah menjadi solusi utama untuk menyelamatkan UMKM.

"Seolah-olah hanya tertumpu kepada sektor keuangan seolah-olah dengan orang berhenti beraktivitas segala macam dengan diguyur dari sisi likuiditas itu persoalan akan selesai mereka lupa bahwa apa yang menyebabkan terganggunya aktivitas berbeda," kata dia.

BRI Relaksasi 134 Ribu Pelaku UMKM

BRI telah melakukan restrukturisasi terhadap lebih dari 134 ribu pelaku UMKM yang terdampak COVID-19 di Indonesia.

Seperti diketahui, pemerintah menyiapkan dana stimulus pemulihan ekonomi nasional Rp123 triliun untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di masa pandemi. Rinciannya adalah subsidi bunga Rp35,28 triliun, penempatan dana untuk restrukturisasi Rp78,78 triliun.

Kemudian belanja imbal jasa penjaminan (IJP) Rp 5 triliun, penjaminan untuk modal kerja Rp 1 triliun, PPh Final UMKM ditanggung pemerintah (DTP) Rp 2,4 triliun, serta pembiayaan investasi kepada koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM Rp 1 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: