Industri baja diperkirakan baru pulih tahun depan

Jum'at, 10 Juli 2020 | 09:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Dampak dari pandemi Covid-19 memukul telak permintaan baja di seluruh dunia. Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan, permintaan baja secara global diramal terkontraksi 1.654 metrik ton atau 6,4% tahun ini seiring adanya perubahan konsumsi baik dari sektor industri maupun masyarakat termasuk minimnya investasi selama pandemi.

Ketua Dewan Pembina IISIA Edy Putra Irawadi mengatakan perubahan teknologi industri turut berperan menekan permintaan baja. Terlebih lagi, sebagian besar produk baja dijual untuk produk-produk rumah tangga. "Permintaan baja dunia tahun 2020 menurut World Steel Association kontraksi 6,4% atau drop 1.654 metrik ton. Tapi diperkirakan pada 2021 permintaan baja akan kembali tumbuh sebesar 3,8% atau naik 1.317 metrik ton," ujar Edy dalam webniar di Jakarta,  Kamis (9/7/2020).

Menurut Edy pandemi virus corona yang memukul daya beli masyarakat membuat permintaan barang-barang rumah tangga berbahan baku baja kian menyusut. Pasalnya, mayoritas negara pengguna barang rumah tangga berbahan baku baja saat ini menjadi episentrum penyebaran wabah.

Sebut saja, Korea Selatan dengan konsumsi baja 1.039 kg per kapita, Taiwan sebanyak 790 kg per kapita dan Jerman sebesar 470 kg per kapita. Lalu, ada Tiongkok 330 kg per kapita dan Amerika Serikat (AS) sebanyak 297 kg per kapita. "Kalau ada resesi ekonomi, maka imbasnya permintaan baja ikut turun, seperti pada tahun 2018 dan 2019. Sekarang di kuartal pertama produksi dunia sudah turun 18%," tukasnya.

Imbas minimnya permintaan, menjadikan pasokan baja di pasar internasional over supply. Ekspor baja dunia tahun 2019 sebanyak 436 juta metrik ton, sedangkan kebutuhan yang tercermin dari angka impornya hanya berkisar 374 juta. Alhasil, ada surplus sebanyak 62 juta metrik ton dan ini pula kemudian menyebabkan banyak lari ke dalam negeri.

"Produksi baja dari tahun 2019 itu 1.869,9 juta metrik ton, cepat sekali tumbuhnya dan rata-rata produksi baja dunia terus meningkat," kata dia.

Senada, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim sebelumnya mengatakan imbas merebaknya wabah corona membuat Indonesia berpotensi kebajiran impor baja. Hal ini juga terjadi di berbagai negara lain. Menurutnya, dengan ekonomi lesu, stok atau pasokan baja global pun banyak yang menganggur dan tak terserap pasar. "Karena ada penurunan pertumbuhan ekonomi, jadi over supply. Baja impor tersebut yang akan masuk ke Indonesia cepat atau lambat," kata Silmy

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor besi dan baja sepanjang 2019 mencapai US$ 10,39 miliar atau sekitar Rp 753 triliun. Realisasi impor baja meningkat 1,42% dibanding tahun sebelumnya US$ 10,25 miliar.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan pemeritah terus mendorong pembangunan infrastruktur guna meningkatakan penggunaan industri baja nasional. Dengan begitu, impor baja akan berkurang.

“Kalau lihat dari bajanya, dari sisi impor Pak Menperin sudah komit akan mensubstitusi paling tidak 35 persen sampai akhir masa jabatan. Jadi ini saya kira kita sama-sama memikirkan," kata Taufiek.

Kendati begitu Taufiek mengakui masih ada barang yang harus tetap impor.Saat ini produksi baja di Indonesia masih rendah, yaitu 6,5 juta ton. Jumlah itu harus digenjot agar bisa bersaing dengan negara-negara lain.

"Kalau dari sisi impor based practice ada banyak yang tak bisa diproduksi, pasti dibuka untuk pembangunan infrastrukturnya dan sebagainya. Tapi kami tetap komit industri dalam negeri supaya terpenuhi semua itu dulu," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: