Kemendikbud ingin permanenkan pembelajaran jarak jauh dalam sistem hibrida

Selasa, 7 Juli 2020 | 09:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merancang metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara permanen, namun dalam satu konsep sistem pembejaran hibrida yang mengkombinasikan pembelajaran online dengan tatap muka.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Irwan Syahril menegaskan, yang akan permanen adalah adopsi penggunaan teknologinya dalam proses belajar mengajar. “Bukan berarti jadi enggak sekolah sama sekali,” katanya, Senin (6/7/2020).

Irwan bilang, ke depan teknologi akan terus berkembang dan jangkauannya akan makin luas dan terjangkau harganya. Ketika teknologi sudah semakin terjangkau, akan lebih efisien dibandingkan dengan harus menyediakan modul cetak.

“Makanya metode hibrida tetap perlu karena kita mempertimbangkan anak-anak yang tidak mampu secara sosial dan ekonomi,” tambahnya.

Untuk tahun ajaran baru, Kemendikbud akan meminta untuk melakukan penilaian kepada masing-masing murid, agar menghidari terjadinya kesenjangan kemampuan menyerap materi pada masing-masing murid.

Ketika anak belajar dari rumah cara belajarnya bervariasi dan dilakukan dalam waktu yang lama, ketika kembali ke kelas maka anak akan merasa banyak perbedaan, terutama pada anak Sekolah Dasar.

“Guru akan diminta melakukan assessment secara berkala masa belajar. Di awal murid tidak akan langsung dikasih kurikulum baru. Diulang dulu pelajaran kelas sebelumnya, kalau ada yang belum bisa ya dibuat sampai bisa dulu sampai setara pemahamannya dengan murid lainnya,” kata Irwan.

Toto Suprayitno, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Kebukuan (Kabalitbangbuk) menambahkan bahwa karena tidak ada lagi Ujian Nasional, setiap guru harus melakukan penilaian kepada anak muridnya.

“Penilaian ini untuk mendapatkan umpan balik, mana anak yang tertinggal, mana anak yang advance, mana anak yang pas belajarnya. Yang tertinggal ini nanti dibantu. Kalau dulu [penilaian] belum jadi kebiasaan, sekarang harus jadi kebiasaan,” kata Toto.

Melihat kondisi Indonesia yang masih dilanda pandemi, proses PJJ maupun Pengajaran Hibrida juga disesuaikan dengan zona di tiap daerah, apakah termasuk zona merah, atau sudah zona hijau.

“Kalau masih merah ya dibuatkan printed modul dulu, dikirim dari sekolah. Atau ada yang gurunya berkunjung ke rumah murid buat yang tinggal di zona hijau, atau pembelajaran di sekolah kembali tapi tetap sesuai dengan protokol kesehatan,” jelasnya.

Karena banyak kegiatan yang bisa dieksplorasi, pemerintah tidak membuatkan aturan khusus terkait cara mengajar di tengah kondisi pandemi virus Corona ini.

“Jadi jangan lagi belajar itu hanya mengejar ketuntansan daftar kurikulum, enggak peduli anak muridnya nyambung atau enggak. Harus diperhatikan anak itu pemahamannya sampai mana, fokus pada anak yang tertinggal, sehingga ketika sudah semua pemahamannya sama mengajarnya juga bisa jadi lebih enak,” kata Toto. kbc10

Bagikan artikel ini: