Pakar epidemiologi usulkan rapid test disetop dan perbanyak tes PCR

Jum'at, 3 Juli 2020 | 02:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengusulkan agar pelaksanaan rapid test atau tes cepat Covid-19 dihentikan dan memperbanyak pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction ( PCR).

Melansir alodokter.com, PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

"Sebaiknya rapid test-rapid test ini disetop. Tingkatkan saja PCR," ujar Pandu, Kamis (2/7/2020).

Pandu menyebutkan, rapid test tidak masuk dalam sistem pendataan kasus Covid-19 oleh pemerintah. Dia juga menilai rapid test mengganggu fokus pemerintah dalam memperbanyak tes PCR. "Jadi sekarang fokus saja ke PCR yang juga merupakan bagian dari contact tracing yang masif," ujar Pandu.

Namun, dia juga menyarankan agar pemerintah mengutamakan tes bukan berdasarkan kepada penghitungan spesimen saja. Adapun, yang harus dijadikan patokan adalah tes kepada orang per orang. "Jadi sekarang berapa ribu orang per pekan," ujar Pandu.

Sebelumya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto menjelaskan perihal pelaksanaan rapid test yang hasilnya tidak masuk dalam sistem pelaporan data Covid-19 yang disusun pemerintah.

Menurut Yurianto, rapid test merupakan deteksi awal terhadap individu yang diduga terinfeksi Covid-19. Dugaan tersebut berdasarkan contact tracing maupun kajian epidemiologi di suatu daerah. "Itu hanya untuk screening awal terhadap dugaan terinfeksi dari tracing maupun kajian epidemiologi," ujar Yuri.

  

Meski tidak masuk dalam pendataan pemerintah pusat, tetapi datanya disimpan oleh masing-masing daerah. "Rapid test datanya disimpan daerah," ungkap Yuri.

Yuri menjelaskan, sesuai standar WHO, pemeriksaan spesimen harus menggunakan antigen. Karenanya, pemerintah menggunakan dua metode pengetesan yakni Real Time-PCR dan tes cepat molekuler (TCM) untuk memastikan apakah individu telah terjangkit Covid-19 atau tidak.

"Sedangkan rapid test, yang berbasis serologi darah, tidak masuk dalam standar tersebut," tutur Yuri. kbc10

Bagikan artikel ini: