'Panggung digital' jadi siasat industri seni tarik cuan di era new normal

Kamis, 2 Juli 2020 | 23:19 WIB ET
Dari kiri; Hafshoh Mubarak, Jhagad Mahaghita Swara, dan Fiki Satari
Dari kiri; Hafshoh Mubarak, Jhagad Mahaghita Swara, dan Fiki Satari

SURABAYA, kabarbisnis.com: Para pekerja seni tampaknya tidak kehilangan akal meski pandemi Covid-19 turut berimbas negatif terhadap industri kreatif. Agenda manggung dan pagelaran prakits batal karena tidak memungkinkan mengumpulkan jumlah orang banyak.

Wakil Ketua Bidang Industri Kreatif dan Start Up Kadin Kota Surabaya, Hafshoh Mubarak mengatakan, para pekerja seni mau tidak mau harus beradaptasi dengan teknologi. Dia yang sudah menekuni di dunia teater selama 20 tahun menyadari terhubung dengan platform digital seperti kanal Youtube.

“Industri seni panggung dapat beradaptasi (platofm digital, red). Namun harus ada kolaborasi dengan pekerja seni lainnya seperti seperti pemusik, seni rupa dan tata pangung serta artistik. Seperti halnya industri fesyen akan sulit tanpa didukung pekerja seperti fotografer dan iklan akan sulit berkembang,” ujar Hafsah dalam webinar Kadin Surabaya dan Surabaya Creative Network bekerja sama kabarbisnis.com bertema ‘Kapan Joget Lagi’ Prospek Bisnis Pertunjukan di Era New Normal', Kamis (2/7/2020).

Hafshoh memberikan catatan bagaimanapun panggung harus diisi dengan karya. Kearifan lokal yang mengangkat kesenian khas Surabaya jangan tenggelam ditengah dinamika sekeliling yang berubah menjadi kota industri. Hasyah mengaku industri seni panggung seperti kesenian ludruk yang memudar dimata kalangan milineal sepertihalnya gedung pentas Srimulat yang tidak lebih hanya panggung kosong.

Menurut Hafshoh, para pekerja seni mulai menggelar konser berbasis daring melalui kanal Youtube.Diakui setiap individu tidak seragam pemahamannya mengingat dimensi seni di panggung berhadapan dengan penonton. Dibutuhkan proses adaptasi menyajikan konten berbasis seni hingga cara monetisasi  melalui konser daring . Bahkan hal ini juga dilakukan seniman sekaliber Teater Koma yang mementaskan pentas bernama Tanda Cinta akhir Juni lalu juga melalui live IG.

Hal sama juga dilakukan rekan seniman teater lainnya dengan melakukan pentas kesenian melalui streaming , meski secara eksplisit melakukan penjualan tiket . Caranya menggalang donasi kepada audience melalui ovo atau gopay, belum terlalu masuk ke area profitability.

Menurutnya, hal ini menunjukan pergerakan industri seni pertunjukan masih berdetak hidup. Bagaimanapun hanya di panggung, seniman memperoleh totalitas berkarya karena merasakan adanya transfer energi dalam satu suasana. “Memang tidak terasa maksimal (streaming) .Tapi ini harus dilakukan untuk bertahan hidup,” terangnya.

Jhagad Mahaghita Swara, pelaku industri kreatif yang juga vokalisvMahaghita Band mengaku, pandemi Covid-19 tidak terlalu berat dampaknya dirasakan dirinya sebagai pelaku industri kreatif. Menurutnya, industri musik konvensional yang digeluti sejak tahun 2006 pun sudah digulung badai tsunami bernama industri musik digital .

Tranformasi di industri musik ini menuntut Djagad berbenah diri juga dengan cara memanfaatkan kekuatan platform digital seperti kanal youtube atau sarana media sosial lainnya. Selain pawai membawakan berbagai genre jenis musik, pelaku industri kreatif harus mampu melakuan branding diri sehingga mempunyai deferensiasi dengan bandnya.

Seperti halnya  radio menjadi epicentrum  mempromosikan lagu di tahun 2006, Djagad pun membuka rahasia untuk menjadi ‘popular’ juga dilakukan di era media digital. Siasat ‘bakar uang’ ini  dengan mempromosikan cuplikan lagu selama 15 detik di install story di instgram.

“Kita berhasil menjaring 6.000 followers hanya dalam empat hari saja,” ujar Djagad yang mengaku cara ini cukup ampuh menggaet sponsor.

Baik Hafshoh dan Djagad mengaku seagai instan pelaku industri kreatif berharap pemerintah mengeluarkan regulasi protokol kesehatan di sektor di saat pandemi Covid-19.  Dengan adanya panduan di masa New Normal, para pekerja seni seperti mereka akan memiliki rambu dan batasan untuk mengekspresikan karyanya. Meski diakui faktor kesehatan diatas segalanya tanpa terkecuali.

Selain itu, mereka juga berharap pemerintah dapat menggodok regulasi hukum dan sistem perhitungan royalty yang akurat dan transparan .Sementara untuk Kemenkraf juga diharapkan juga mampu merekomendasikan pemetaan pasar bagi industri kreatif daerah berbasis riset.

Sementara itu Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sekaligus Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Fiki Satari menuturkan, pekerja seni juga memiliki potensi besar untuk bisa bangkit di masa new normal. "Industri musik, tari menjadi modal utama untuk menggerakkan ekonomi, karena di masing-masing daerah juga memiliki filosofi tersendiri dari kesenian atau budaya mereka," jelasnya.

Menurutnya, seni pertunjukan merupakan sub sektor yang ekosistemnya ikut terdampak pandemi, seperti kuliner, event organizer termasuk MICE, persewaan alat, manajemen talenta, pelaku seni termasuk musisi, perusahaan media/televisi, production house, sanggar, hingga biro travel.

"Makanya kita juga aktif melakukan pendampingan kepada industri kreatif dan UMKM baik ke pasar, bertemu buyer, atau mengkolaborasikan antara pelaku industri kreatif yang satu dengan lainnya," katanya.

Selain itu, lanjut Fiki, pandemi Covid-19 membuat pelaku industri kreatif serta usaha mikro kecil menengah (UMKM) gencar dalam merambah digital, termasuk pekerja seni yang beralih ke pertunjukan daring serta media virtual.

"Kami pun mendorong pelaku seni untuk berada;tasi ke teknologi dan media baru karena itulah yang terjadi saat ini. Juga terus gunakan media sosial sebagai penghubung dan lakukan update secara berkala untuk engagement," pungkasnya. kbc11/kbc7

Bagikan artikel ini: