Arus data di 2030 diprediksi capai 500 zettabyte, digitalisasi jadi ruh bisnis masa depan

Rabu, 1 Juli 2020 | 07:37 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia telah mengakibatkan berubahnya kebiasaan masyarakat dunia. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak beraktifitas secara tradisional, maka dengan adanya pandemi kebiasaan mereka berubah drastis ke arah digital. Akibatnya, Arus data mengalami kenaikan signifikan.

"Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan lonjakan yang sangat besar terhadap arus data. Jika ditahun ini arus data diprediksi mencapai sekitar 50 zettabyte, maka di tahun 2030 arus data diprediksi mencapai 500 zettabyte atau bahkan lebih," ungkap Executive Director PT Trigatra Cipta, Sandy Kusuma saat menjadi narasumber dalam acara Online Solution Seminar (OSS) yang digelar oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim dengan Aptiknas, Arebi dan kabarbisnis.com dengan tema "Mengintip Peluang Techonomy Masa Depan", Surabaya, Selasa (30/6/2020).

Dengan besarnya lonjakan arus data tersebut maka dipastikan sebagian besar aktifitas usaha akan dilakukan secara virtual. Dan ini menjadi jawaban kunci akan keniscayaan digitalisasi dalam kehidupan manusia kedepan, temasuk aktifitas bisnis dan usaha.

"Kita harus suntik digitalisasi dalam diri kita, setiap kedipan harus digital, setiap sapaan harus digital. Mau tidak mau kita harus mulai lakukan digitalisasi dalam kehidupan kita. Sekarang, setiap orang harus melek digital, tidak boleh tidak. Tidak hanya kita, konsumen juga harus dibiasakan dengan digital agar bisa terjadi transaksi atau kolaborasi ," tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa teknologi digital mulai dikenal oleh pelaku bisnis di sejumlah sektor jauh sebelum adanya pandemi Covid-19. Hanya saja, tidak banyak industri yang telah menerapkannya dan memanfaatkannya dalam aktifitas bisnis mereka.

Beberapa sektor yang telah beradaptasi dan menerapkan digitalisasi dalam kegiatan bisnis mereka diantaranya sektor Informasi dan teknologi (IT), media, finansial dan asuransi seta ritel. Sementara sektor yang telah menggunakan namun penetrasinya masih rendah diantaranya adalah sektor kimia, otomotif, minyak dan gas serta pelabuhan.

"Adapun sektor yang lambat dalam mengikuti arus digital adalah pertanian atau agricultur. Utamanya perkebunan dan pertanian. Dua sektor ini masih sulit melakukan adaptasi dengan digital," ujar tambahnya.

Sandy kemudian menjelaskan bahwa melalui digitalisasi, maka pebisnis akan mampu menemukan cara baru dalam melakukan aktifitas bisnisnya, yaitu cara yang bisa menjadikan aktifitas bisnis menjadi lebih cepat dan lebih baik serta lebih murah. Dan ini akan menjadikan bisnisnya bersifat automatisasi dan memperoleh pertumbuhan yang maksimal.

Disisi lain, untuk memenangkan persaingan, pengusaha juga dituntut untuk melakukan diferensiasi produk, memberikan added value atau nilai tambah. "Dan sebisa mungkn menjual produk yang membuat pembeli datang kembali untuk membeli dan membeli seperti produk makanan dan minuman," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: