NPL tinggi, sektor ini dominasi program restrukturisasi kredit

Selasa, 30 Juni 2020 | 09:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sektor perdagangan menjadi yang paling banyak mendapatkan restrukturisasi kredit perbankan. Tak heran karena rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) sektor perdagangan cukup tinggi atau mencapai 4,32 persen pada Mei 2020.

Berdasarkan paparan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada rapat bersama Komisi XI DPR pada Senin (29/6/2020), per Mei 2020, pertumbuhan restrukturisasi sektor perdagangan mencapai 277,66 persen.

Pertumbuhan restrukturisasi sektor perdagangan tersebut cukup tajam mengingat pada Maret 2020 besarannya hanya sebesar 15,7 persen dan per April 2020 sebesar 167,1 persen.

Pertumbuhan restrukturisasi sektor perdagangan per Mei 2020 adalah sebesar 60,59 persen.

Pertumbuhan restrukturisasi tertinggi kedua terjadi pada sektor rumah tangga, dengan besaran per Mei 2020 mencapai 252,64 persen. Secara rinci, subsektor rumah tangga dengan pertumbuhan restrukturisasi tertinggi adalah pemilikan kendaraan bermotor yakni sebesar 2.818,2 persen.

Sisanya, pertumbuhan restrukturisasi subsektor pemilikan rumah tinggal per Mei 2020 adalah sebesar 88,4 persen, pemilikan flat apartemen 68,2 persen, pemilikan ruko 110,2 persen, dan peralatan rumah tangga lainnya 51 persen.

Selanjutnya, sektor konstruksi memiliki rasio NPL per Mei 2020 sebesar 3,91 persen. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan memiliki NPL per Mei 2020 sebesar 1,49 persen. Pertumbuhan restrukturisasi sektor pertanian mencapai 119,35 persen.

Secara industri, rasio kredit bermasalah bank umum per Mei 2020 berada pada 3,01 persen, naik dari posisi April 2020 di 2,89 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan ada beberapa bank sudah mulai mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah sehingga melemahkan kualitas kredit secara industri.

"Dulu mungkin cuma prediksi tetapi saat ini sudah terjadi. Ada beberapa bank yang pada Mei, NPL-nya mulai meningkat. Beberapa sektor mulai kena imbas dari pandemi virus corona," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: