Hoaks! Info Wapres minta MUI terbitkan fatwa salat tanpa wudu di tengah pandemi Covid-19

Selasa, 30 Juni 2020 | 09:50 WIB ET

JAKARTA - Beredar viral unggahan akun Facebook Putra Inka (fb.com/dennissikobo.taww) berisi gambar tangkapan layar artikel berjudul “Maruf Amin Minta MUI Terbitkan Fatwa Shalat Tanpa Wudhu Tanpa Tayamum” yang dimuat di situs swarakyat.com dengan narasi sebagai berikut:

“Akan Keluar New Fatwa Yang Menurut Saya Tambah Nyleneh Dan Somplak,Bagaimana Menurut Pemirsa Tentang New Fatwa Dari Mbah Kakung,Yang Akan Di Keluarkan Untuk Rakyat Negeri +62.”

 

Tentu saja itu adalah kabar hoaks. Yang benar adalah, Wakil Presiden Maruf Amin meminta MUI menerbitkan fatwa salat tanpa wudu khusus untuk petugas medis dan petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien COVID-19. Jadi, permintaan fatwa itu bukan untuk masyarakat umum.

Wapres meminta ada fatwa tersebut lantaran petugas medis dan petugas kesehatan tidak sembarang bisa melepas pelindung diri (APD) saat waktu salat tiba ketika hendak berwudu. Mereka bisa memakai APD selama berjam-jam dalam proses penanganan pasien.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menerbitkan fatwa Nomor 17 Tahun 2020. Fatwa menyatakan tenaga medis dengan alat pengaman diri (APD) yang menangani pasien Covid-19 boleh tidak wudu karena dalam keadaan mendesak.

“Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudu atau tayamum), maka ia melaksanakan salat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i’adah),” bunyi fatwa MUI yang disahkan Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis, 26 Maret 2020.

Hasanuddin mengatakan salah satu poin penting fatwa itu yakni tenaga kesehatan muslim yang merawat pasien covid-19 dengan APD tetap wajib melaksanakan salat dengan berbagai kondisinya diikuti sejumlah keringanan. Fatwa bisa menjadi pedoman salat bagi tenaga kesehatan yang memakai APD saat menangani pasien covid-19. Hasanuddin menjelaskan, manakala kondisi tenaga medis berada dalam rentang waktu salat dan memiliki wudu, boleh melaksanakan salat dalam waktu yang ditentukan, meski tetap memakai APD. Sementara, dalam kondisi sulit berwudu, maka bertayamum, kemudian melaksanakan salat.

Hasanuddin menambahkan apabila APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, maka boleh melaksanakan salat dalam kondisi tidak suci dan mengulangi salat (iadah) usai bertugas. Dia mengatakan ketika kondisi jam kerja tenaga medis sudah selesai, atau sebelum mulai kerja masih mendapati waktu salat, maka wajib salat fardu sebagaimana mestinya. kbc9

Bagikan artikel ini: