Gerakan Pakai Masker sasar 9.200 pasar tradisional

Kamis, 25 Juni 2020 | 10:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Upaya sebagian masyarakat atau komunitas tertentu dalam mengkampanyekan pemakaian masker secara massif terus dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Gerakan Pakai Masker (GPM) misalnya, gencar melakukan kegiatan Penyuluhan untuk Penyuluh (PuP) kepada para pedagang pasar di 277 pasar kawasan Jabodetabek. Ini adalah kegiatan awal sebelum nantinya diperluas ke 9.200 pasar tradisional di seluruh Indonesia.

PuP sendiri dilakukan secara daring, selain masih dalam masa transisi PSBB, juga agar bisa menjangkau partisipan lebih banyak.

Ketua Gerakan Pakai Masker (GPM) Sigit Pramono menjelaskan, dipilihnya pasar tradisional sebagai tempat penyuluhan karena intensitas keramaiannya yang tinggi. Selain itu, baru-baru ini juga banyak ditemukan kasus baru Covid-19 di area pasar.

"Kita sengaja mulai dengan pasar tradisional karena kita tahu bahwa pasar tradisional ini adalah urat nadi dari perekonomian kita, apalagi dalam beberapa minggu terakhir ini banyak kasus-kasus baru yang menyebabkan pasar harus ditutup, sehingga gerakan kita mulai di pasar tradisional," ujar Sigit dalam Penyuluhan Pakai Masker secara daring, Rabu (24/6/2020).

Adapun beberapa pasar yang sempat ditutup sementara akibat kasus Covid-19 diantaranya; Pasar Lontar, Gondangdia, Petojo Enclek, Serdang, Rawasari, Tomang Barat, Slipi, Cijantung Ciracas, Palmeriam, Perumnas Klender, Pesanggrahan, Kebayoran Lama, Pondok Labu, Warung Buncit, Pasar Minggu, Lenteng Agung, Kelapa Gading, dan Kramat Jati.

"Kita fokus kepada gerakan pakai masker karena kami meyakini kalau kita disiplin pakai masker saja, kita akan bisa menyelamatkan negeri ini, ekonomi kita juga akan selamat, yang penting adalah disiplin pakai masker," ujar Sigit.

Sebelumnya, Juru bicara (jubir) Pemerintah pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan sakit itu merupakan pilihan, tetapi untuk sehat menjadi kewajiban terhadap masyarakat yang masih belum mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

"Harus diyakini sakit itu pilihan, karena yang wajib itu sehat," kata Achmad Yurianto.

Menurut dia, karena jika ada yang memilih tidak mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan ternyata menjadi sakit itu menjadi wajar karena tidak patuh. Tertular virus corona tipe baru bukan takdir, tapi karena ada orang yang memilih cara hidup yang kemudian menyebabkan dia sakit.

"Dia milih enggak pakai masker, dia memilih enggak cuci tangan, dia memilih enggak jaga jarak. Karena seharusnya kita wajib pakai masker, wajib jaga jarak, wajib cuci tangan, karena kita menyadari kita wajib sehat," kata dokter yang akrab disapa Yuri itu.

Masyarakat, menurut dia, perlu menyadari jika tidak sehat maka hidup mereka menjadi tidak produktif. Dan bagi kepala keluarga tentu artinya tidak bisa menafkahi keluarganya yang seharusnya memang itu merupakan kewajiban. kbc10

Bagikan artikel ini: