Agar biaya produksi setrum lebih kompetitif, PJB luncurkan konsep Re-Forge

Senin, 15 Juni 2020 | 18:49 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Pembangkitan Jawa Bali atau PJB terus melakukan sejumlah inovasi, termasuk dalam hal pengelolaan pembangkit dengen meluncurkan Re-Forge. Langkah ini sekaligus menjawab tantangan dunia bisnis ketenagalistrikan agar pengelolaan pembangkit semakin beragam sehingga tercipta peningkatan kinerja pembangkit hingga biaya pokok produksi yang lebih kompetitif.

"PJB telah menjadi yang pertama di Indonesia untuk menjawab tantangan tersebut melalui Re-Forge," tegas Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara dalam siaran resmi yang diterima kabarbisnis.com, Surabaya, Senin (15/6/2020).

Ia mengatakan bahwa Re-Forge tidak hanya menjadi jawaban terhadap tantangan yang ada namun juga menjadi salah satu cara dalam menyelaraskan program dengan Strategic Inisiative Grand Strategy PJB yang akan diangkat selama lima tahun kedepan.

"Dimana salah satunya merujuk pada rencana implementasi digitalisasi monitoring dan evaluasi untuk semua pembangkit PJB baik existing maupun UBJOM dan IPP," tegasnya.

Ia menjelaskan, Re-Forge atau Reliable And Efficient Powerplant Management adalah sebuah konsep kustomisasi pengelolaan pembangkit untuk unit pembangkit dengan kapasitas yang relatif kecil (<50 MW) yang menjadi bagian dari Standardisasi Produk 2.0.

"Re-Forge merupakan konsep kustomisasi yang dilakukan agar model bisnis pengelolaan unit pembangkit menjadi lebih terpusat dan tidak ada redundansi proses. Tidak hanya

pengelolaannya yang terpusat, namun analisa juga dilakukan secara terpusat oleh para expertise di bidang pembangkit sehingga analisa pun menjadi lebih akurat," terang Iwan.

Untuk pengimplementasian Re-Forge, PJB melaksanakan peresmian secara virtual untuk Go-Live RE-FORGE PLTU Tembilahan pada Jumat (12/06/2020) pagi yang juga dihadiri oleh Wiluyo Kusdwiharto selaku Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT PLN (Persero), Supriyadi selaku EVP Operasi Regional Sumatera PT PLN (Persero), Mukhtar selaku EVP Operasi Regional Kalimantan PT PLN (Persero), serta jajaran Direksi PT Pembangkitan Jawa-Bali.

PLTU Tembilahan sebagai Pilot project dari Re-Forge, akan menggunakan aplikasi Maximo sebuah aplikasi Enterprise Asset Management yang telah dikostumisasi sesuai dengan BMS Re-Forge. Aplikasi Maximo sendiri sudah umum digunakan dalam Pembangkit Listrik namun kostumisasinya berbeda dengan Re-Forge. PLTU Tembilahan akan menjadi unit yang pertama kali mengimplementasikan Re-Forge.

"Implementasi Re-Forge akan memberikan bantuan terhadap pembangkit-pembangkit berkapasitas kecil terutama dalam meningkatkan keandalannya," tambah Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT PLN (Persero), WIluyo Kusdwiharto.

Hal ini senada dengan rencana kedepan dimana PLTU Bangka, PLTU Belitung, PLTU Bolok, serta PLTU Ropa akan menjadi unit yang selanjutnya mengimplementasikan konsep Re-Forge.

Dengan kehadiran konsep kustomisasi Re-Forge, akan memberikan keunggulan bagi unit pembangkit PJB maupun pembangkit-pembangkit dari IPP lainnya, karena selain mengefisiensikan proses bisnis yang kompleks, Re-Forge juga dapat mengoptimalkan kapabilitas SDM, dan menyederhanakan pola komunikasi antara PJB, PJB Services (selaku anak perusahaan yang mengelola unit jasa operation & maintenance) dan unit pembangkit menjadi lebih sederhana.

Re-Forge ini mengambil konsep waralaba yang berkembang di Indonesia. Pemilik pembangkit tidak perlu direpotkan untuk mengurusi perancanaan, supervise enginering, sampai mengatur supply chain yang harus dilakukan karena hal-hal tersebut secara terpusat dan terkendali akan dilaksanakan oleh PJB.

Hal ini dapat berdampak kepada lebih fokusnya pemilik pembangkit pada pengoperasional pembangkit saja sehingga akan mengurangi jumlah SDM yang diperlukan dan akan berimbas kepada penghematan biaya jangka panjang.kbc6

Bagikan artikel ini: