Nicke diberi mandat IPO dua anak usaha Pertamina di 2020

Sabtu, 13 Juni 2020 | 08:30 WIB ET
Nicke Widyawati
Nicke Widyawati

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  Erick Thohir mempertahankan Nicke Widyawati sebagai Presiden Direktur Pertamina. Atas hal ini Erick pun memberi target kepada Nicke untuk bisa meng-go public-kan dua anak usaha atau subholding Pertamina dalam dua tahun ke depan.

Erick menegaskan IPO dua subholding Pertamina sebagai bagian dari upaya Kementerian BUMN untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas Pertamina, serta supaya ada pengukuran kinerja atau key performance indicator (KPI) yang lebih jelas.

“Dalam dua tahun ke depan subholding ini kami mau go public supaya terjadi transparansi dan akuntabilitas. Kami akan target dua tahun kedepan Ibu Nicke harus bisa meng-go public-kan 1-2 subholding,” kata Erick melalui video conference, Jumat (12/6/2020).

IPO merupakan langkah berikutnya setelah upaya Erick meningkatkan efisiensi dan sinergisitas Pertamina dengan memangkas jumlah direksi Pertamina. Sebelumnya perusahaan energi pelat merah ini memiliki dari 11 direktur, kemudian dipangkas menjadi enam, sudah termasuk direktur utama.

Dengan struktur organisasi baru ini, praktis tidak ada nomenklatur direksi yang bersifat teknis. Jabatan seperti direktur hulu, direktur pengolahan, direktur pemasaran ritel, direktur pemasaran korporat hingga direktur megaproyek dihapus.

Kini, Pertamina sudah berbentuk induk usaha atau holding energi, sehingga tidak memerlukan banyak direksi. Apalagi Pertamina memiliki banyak anak usaha atau sub holding yang sering kali memiliki kebijakan yang tidak seirama.

“Seperti di hulu, anak usahanya banyak. Kebijakannya tidak seirama, salah satu buktinya lifting migas turun. Ini kami konsolidasikan dengan satu kebijakan besar, tidak bisa per hulu, ” kata Erick.

Sehingga dengan demikian, anak-anak usaha Pertamina dapat saling bersinergi. Misalnya di sektor hulu migas saling berbagi pengetahuan dan teknologi supaya lifting migas naik, atau di bidang pemasaran supaya terjadi sinergisitas distribusi untuk mengatasi permasalahan di bidang logistik.

“Dengan kebijakan yang disatukan, portofolionya disatukan, kita mengharapkan adanya sinergi untuk efisiensi, sehingga lifting minyak bisa minimal stagnan atau naik,” jelasnya.

Erick mengatakan Pertamina juga akan mengkonsolidasikan sub holding untuk lini bisnis komersial dan perdagangan. Hal ini juga akan diikuti dengan pemangkasan produk seperti minyak dan oli yang dipasarkan Pertamina.

Saat ini, Erick mencontohkan Pertamina memiliki sembilan merek bahan bakar yang dijual kepada masyarakat. Menurutnya, jumlah tersebut terlalu banyak dan memberi beban logistik dan distribusi yang terlalu besar.

“Terlalu banyak produk, truk yang kirim minyak ke juga banyak, habis kirim truknya dicuci lagi. Kalau sembilan produk, berarti sembilan kali kirim, tapi kalau lima produk kan mungkin hanya lima kali,” jelas Erick.   

Adapun dipertahankannya posisi Nicke memimpin Pertamina, Erick beranggapan kepemimpinan di BUMN itu berdasarkan komponen penilaian kinerja (KPI). "Saya tidak mau sebagai menteri, mengganti pimpinan BUMN setiap tahun, bagaimana bisa kerja? Saya akan mengganti mereka kalau KPI tidak tercapai dan kalau mereka tidak profesional," timpalnya.

Menurutnya kebijakan ini telah didiskusikan bersama seluruh direksi dan komisaris Pertamina. “Bahkan kami meng-hired tim independen untuk melihat bagaimana perubahan ini bisa signifikan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: