Hore! Unair temukan potensi 5 kombinasi obat untuk Covid-19

Jum'at, 12 Juni 2020 | 19:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berhasil menemukan lima kombinasi obat-obatan yang dianggap efektif untuk mengobati pasien Covid-19.

Dengan kombinasi terpilih itu, jumlah virus corona bisa dikurangi dari ratusan bahkan ribuan menjadi tak terdeteksi sama sekali.

“Dari 14 regimen obat yang kami teliti, didapatkan lima kombinasi yang punya potensi dan efektivitas cukup bagus untuk menghambat sel virus masuk ke sel target,” kata Purwati, ketua pusat penelitian itu, dalam konferensi pers di akun Youtube BNPB, Jumat (12/6/2020).

Kombinasi pertama, kata Purwati, adalah lopinavir-ritonavir-azithromycin. Kombinasi kedua adalah lopinavir-ritonavir-doksisiklin. Sedang kombinasi ketiga adalah lopinavir-ritonavir-klaritromisin.

Adapun dua kombinasi lain tak melibatkan lopinavir dan ritonavir, obat antivirus yang biasa digunakan untuk pasien HIV. Melainkan melibatkaan obat antimalaria dan radang sendi serta lupus, hydroxychloroquine. Keduanya adalah kombinasi hydroxychloroquine-azithromycin dan hydroxychloroquine-doksisiklin.

Kombinasi obat-obatan tersebut diambil dari yang sudah beredar di pasaran. Alasannya, sudah melalui berbagai macam uji hingga mendapat izin edar dari Badan POM. 

Purwati menjelaskan, obat-obatan tersebut lalu diteliti dan diperluas efektivitasnya sebagai antiviral dari SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19, yang berbasis sampel Indonesia. Proses yang dilalui yaitu toksisitas. “Apakah obat-obat yang dipakai beracun atau enggak dalam tubuh,” ujarnya.

Proses berikutnya adalah mengecek potensi obat untuk membunuh SARS-CoV-2. Kemudian, peneliti mengecek sampai berapa lama efektivitas obat tersebut. Selain mengecek faktor inflamasi (peradangan) dan anti-inflamasi.

Menurut Purwati, konsumsi obat-obatan itu dengan kombinasi yang sudah ditetapkan mampu secara bertahap, 24, 48, dan 72 jam, menurunkan perkembangbiakan virus corona tersebut. "Dari yang jumlahnya ratusan, ribuan, sampai menjadi tak terdeteksi (undetected). Ini artinya bisa memutus mata rantai penularan,” kata dia.

Dalam penelitiannya itu Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair berkolaborasi dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). kbc10

Bagikan artikel ini: