Meski masuk new normal, ekonomi RI diprediksi baru pulih pada 2022

Senin, 8 Juni 2020 | 09:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, penerapan new normal tidak secara otomatis membuat ekonomi Indonesia pulih secara maksimal.

“Belum bisa. Masih butuh waktu untuk pulih. New normal tidak otomatis industri kembali beroperasi maksimal,” kata Bhima seperti dikutip, Minggu (7/6/2020).

Hal itu dikarenakan permintaan ekspor masih melambat, sementara ia menyebut pelaku usaha juga kesulitan memperoleh bahan baku. Sehingga bagi perusahaan membutuhkan waktu untuk menyerap kembali karyawan yang dirumahkan dan di PHK.

“Apalagi ada kekhawatiran pelonggaran di saat kurva positif covid-19 masih meningkat menimbulkan risiko gelombang kedua penyebaran covid-19,” ujarnya.

Kekhawatiran itulah yang menjadi penyebab yang akhirnya melemahkan kepercayaan konsumen untuk kembali belanja.

Lanjut Bhima, ia memperkirakan sampai 2022 perekonomian nasional dapat dikatakan kembali normal seperti sediakala.

Meskipun penerapan new normal diklaim bisa mendorong perekonomian, hal itu tidak bisa serta merta membuat ekonomi Indonesia melesat positif. Melainkan masih ada berbagai proses dan tahapan untuk pulih.

“Sampai 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan kembali ke level sebelum pandemi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto yakin ekonomi Indonesia masih mengalami pertumbuhan yang positif di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Hal itu disampaikannya merujuk pada data IMF (International Monetary Fund) melalui laporannya bertajuk World Economic Outlook (WEO) April 2020.

Menurut Airlangga, berdasarkan data tersebut, ekonomi Indonesia di bulan April, tumbuh. Di mana, negara-negara seperti China, dan India juga tumbuh.

"Jadi kalau kita lihat disinilah proyeksi dari pada IMF itu terlihat di tahun 2020 pertumbuhan ekonomi global itu minus 3 persen. Kemudian untuk negara maju minus 6,1 persen, emerging country minus 1 persen, Amerika minus 5,9 persen dan hanya tiga negara yang pertumbuhannya positif yaitu China 1,2 persen, India 1,9 persen dan Indonesia 0,5 persen," kata Airlangga.

Ditambahkannya, lantaran dari kebijakan masing-masing negara dalam menghadapi pandemi, ada yang menghentikan secara total ekonominya, dan ada yang tetap menjalankan aktivitas perekonomian namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Dan yang masih mendapatkan positif itu yang mengambil policy berbeda yaitu menjaga dari sektor kesehatan dan juga untuk sektor lainnya," tukas Airlangga. kbc10

Bagikan artikel ini: