Pertamina tunda penerapan skema new normal di wilayah Jatim

Kamis, 4 Juni 2020 | 21:21 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Pertamina Marketing Operation Regional V memutuskan untuk menunda pemberlakuan skema "kenormalan baru" atau new normal di wilayah Jatim. Keputusan ini dengan melihat kondisi terkini penyebaran pandemi Covid-10di sejumlah daerah yang masih sangat tinggi, utamanya di Surabaya.

"Pandemi ini adalah tantangan bagi kita semua, tidak terkecuali bagi Pertamina untuk beradaptasi dengan kondisi The New Normal. Namun untuk penerapan di wilayah Jatim kami masih menunggu dengan melihat kondisi," ujar Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus, Rustam Aji saat acara Halal bi Halal dan zoom meeting bersama media di Surabaya, Kamis (4/6/2020).

Meski demikian, Pertamina telah  menerapkan protocol pencegahan Covid-19 di semua lini bisnis dengan tetap mempertahanan aspek HSSE dan kelancaran operasional. Menyesuaikan dengan situasi di masa pandemi, Pertamina juga terus berinovasi dalam layanan kepada masyarakat. Pertamina selaku penyedia energi pun merespons hal itu dengan menerapkan standard operating procedure (SOP) yang sesuai dengan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran COVID-19.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan yang disarankan ketentuan kesehatan, saat ini sudah menjadi hal wajib bagi para operator di SPBU dan Agen distribusi LPG yang melayani kebutuhan energi secara langsung di tengah-tengah masyarakat.

Penerapan tata laksana baru dalam menjalankan proses bisnis di perkantoran Pertamina juga sudah dilaksanakan. Seperti mengoptimalkan sarana rapat online, membawa makan siang dan alat makan pribadi dari rumah, physical distancing di area kerja, surat izin sebagai prosedur tambahan untuk pekerja yang akan keluar-masuk kantor dalam melaksanakan aktivitas serta pengawasan berlapis untuk penerimaan tamu secara fisik di perkantoran.

Pertamina juga terus mendorong konsumen agar bertransaksi membeli BBM dan LPG secara non tunai melalui aplikasi MyPertamina yang terkoneksi dengan LinkAja. Selain lebih mudah dan nyaman, juga mengurangi resiko penyebaran wabah COVID-19 melalui uang tunai.

"Hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk tetap menyediakan energi bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya itu, Pertamina juga berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Pertamina secara berkelanjutan juga menyalurkan bantuan langsung baik kepada tenaga medis maupun masyarakat di berbagai lapisan," tegasnya.

Manager Retail Sales MOR V,  I Ketut Permadi Aryakuumara  mengatakan bahwa akibat Covid-19, Pertamina harus menghadapi tiga tantangan besar (triple shocking) yaitu penjualan minyak atau produk Pertamina yang menurun, harga minyak dunia yang tidak menguntungkan dan ditambah dengan melemahnya nilai tukar dollar. "Namun kami tetap optimis bahwa dengan semangat dan kebersamaan, kekompakan dengan niat ikhlas dan doa, maka semua tantangan optimis dapat dilewati," tegasnya.

Terkait penjualan, ia mengatakan bahwa menjelang berakhirnya masa aktif Satuan Tugas Ramadhan, Idul Fitri dan Covid-19 (RAFICO) 2020, Pertamina mencatat beberapa indikasi perubahan yang terjadi di masyarakat terkait jumlah konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquified Petroleum Gas (LPG) di masyarakat dan kesiapan distribusi energi, khususnya di Jawa Timur. Satgas RAFICO 2020 dijadwalkan bertugas sampai dengan tanggal 8 Juni 2020, yang kebetulan bersamaan dengan berakhirnya masa PSBB jilid ketiga di Surabaya Raya.

Rustam Aji menyampaikan, masa pandemi COVID-19 membawa perubahan dengan data tren konsumsi BBM terus menurun. Semenjak awal Bulan Ramadhan, hingga seminggu pasca Hari Raya Idul Fitri. Kondisi ini tidak mencerminkan hal yang sama pada momen Ramadhan dan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya.

"Selama bulan puasa, lebaran hingga H+6 hari raya tahun ini, kami mencatat konsumsi BBM mengalami penurunan. Untuk produk Premium dan Perta Series (Gasoline) di Jawa Timur sampai dengan akhir bulan Mei (31/5/2020) turun 32 persen dibanding dengan konsumsi pada masa satgas Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) Tahun 2019, pun untuk produk Biosolar dan Dex Series (Gasoil) juga turun sebesar 25 persen," papar Rustam.

Tahun lalu, rerata penyaluran harian untuk konsumsi BBM jenis Gasoline di Jawa Timur selama masa aktif Satgas RAFI mencapai 14.200 Kilo Liter (KL) per hari, namun di tahun ini turun menjadi 9.700 KL. Hal yang serupa juga tercatat pada angka rerata penyaluran harian produk jenis Gasoil yang turun dari 5.800 KL menjadi 4.300 KL per hari.

Sementara di produk LPG, penyaluran untuk sektor rumah tangga sampai H+6 hari raya Idul Fitri 2020 juga menunjukkan tren turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rerata penyaluran harian di periode tersebut pada tahun ini turun 6 persen di seluruh wilayah Jawa Timur.

“Sepanjang periode pemantauan Tim Satgas RAFICO tahun ini, kami salurkan LPG untuk sektor rumah tangga rata-rata sebanyak 4.000 Metrik Ton (MT) per hari. Turun jika dibanding rata-rata penyaluran harian tahun lalu yang berjumlah sekitar 4.300 MT per hari,” tambah Rustam.

Tim Satgas RAFICO Pertamina masih terus siaga dan memastikan penyaluran energi bagi masyarakat baik BBM dan LPG tetap berjalan lancar.kbc6

Bagikan artikel ini: