BlackBerry or Black Market?
Kamis, 20 Agustus 2009 | 17:56 wib ET
Meningkatnya para pemakai handset BlackBerry di pasaran semakin banyak memunculkan pemain baru untuk turut serta memasarkan smartphone canggih asal perusahaan Kanada, Research In Motion (RIM). Bila sebelumnya di dominasi tiga operator seluler (XL, Indosat dan Telkomsel), maka Axis pun ikut ambil bagian. Bahkan Smart pun telah berancang-ancang mengenalkan bundling produknya bersama BlackBerry.
Peluang pasar yang sangat menggiurkan ini, tentu saja menarik minat banyak importir lokal untuk memasarkan BlackBerry. Dampaknya, kini banyak sekali BlackBerry di pasaran atau biasa disebut BlackBerry Black Market atau dari pasar gelap.
Dampak dari konsumen yang membeli BlackBerry dari pasar gelap sangatlah merugikan. Tidak hanya menjadikan fitur-fiturnya jadi mubazir, namun jaminan purna jual juga nyaris tak ada.
Sekadar catatan, di Indonesia lebih dari 70% BlackBerry yang beredar berasal dari Black Market. Bila sudah demikian, bisa saja BlackBerry yang dibeli tidak dilengkapi International Mobile Equipment Identification (IMEI) maupun Personal Identification Number (PIN) yang asli atau sama dengan yang tercatat di data RIM, Kanada.
Dua identitas inilah kunci untuk memaksimalkan segala fitur yang ada pada BlackBerry. Jika ternyata asli dan cocok dengan basis data di RIM, maka BlackBerry akan beroperasi normal. Namun jika IMEI dan PIN berlainan, seketika itu pula fitur yang ada seperti Facebook, BlackBerry Messenger, hingga Yahoo Messenger akan sia-sia. Secara otomatis BlackBerry yang terpakai akan tersuspen atau tak bisa berjalan seperti yang diharapkan. BlackBerry yang Anda pakai pun tak ubahnya handphone pada umumnya, yang hanya bisa telepon dan SMS.
Menariknya, para teknisi di kios-kios penjualan handphone maupun BlackBerry di kota-kota besar Indonesia tak kekurangan akal. Rata-rata mereka mampu membuka suspend dengan cara mengkloning! Memang cara ini cukup jitu, tetapi rata-rata tak berlangsung lama, atau paling lama tiga bulan. Setelah itu BlackBerry pun minta di kloning lagi dan harus keluar biaya lagi.
Supaya terhindar dari cara nakal penjual BlackBerry yang kloningan, kabarbisnis ada kiat tersendiri:
1. Jangan mudah terpercaya dengan iming-iming BlackBerry baru, meskipun segel atau kardus kondisi kinyis-kinyis. Bagaimana pun juga yang selalu Anda bawa adalah handset-nya, bukan kardusnya.
2. Jika yakin BlackBerry bukan kloningan, bikin perjanjian dengan pedagang bahwa jika terbukti kloning, maka bersedia untuk tukar dengan yang baru (ingat pembeli adalah raja).
3. Nomor IMEI dan PIN yang di kardus harus sama dengan yang tertera di handset. Kedua nomor ini biasanya selalu berada di dalam tempat baterai.
4. Pastikan sebelum memasukkan kartu harus aktif dulu dengan layanan BlackBerry dari operator langganan kita. Kalau kartu belum pernah aktif, biar pun BlackBerry asli tetap saja fiturnya tak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
5. Ketika kartu sudah aktif dan BlackBerry dihidupkan, maka harus keluar tulisan dalam huruf besar (GPRS, EDGE, 3G + lambang BlackBerry). Artinya handset Anda tak tersuspen.
6. Bila ternyata dalam 5 menit keluar tulisan gprs, edge maupun 3g dalam huruf kecil, seketika itu pula Anda harus minta ganti BlackBerry baru pada pedagang. Jelas-jelas handset tersebut tersuspen.
7. Jika langkah di atas berlangsung normal, coba tekan menu BB dan masuk ke option-Status. Ketik BUYR. Usai mengetik, seketika itu pula layar akan keluar informasi data pemakaian. Bila handset benar-benar baru, maka harus 0 atau paling besar 10 K. Bila telah mencapai 250 K, artinya BlackBerry yang Anda pegang adalah barang bekas atau second.
8. Jangan lupa untuk mengecek pula Voice Usage. Inipun harus 0. Kalaupun tertulis satu menit ataupun 10 menit, artinya pernah terpakai dan jangan ragu untuk minta tukar.
9. Waspada pula jika BlackBerry Anda terdapat tulisan IT Policy Enabled. Artinya handset ini diperuntukkan bagi operator tertentu, jadi bila Anda akan menambah software, terkadang tidak bisa dilakukan.
10. Yang paling utama, cari BlackBerry yang dalam kondisi unlock atau tidak terkunci. Caranya adalah dengan menekan menu Option – Advanced Options – Sim Card – ketik MEPD. Gambar layar yang terbaca harusnya Disabled. Dengan begitu jika BlackBerry akan berganti kartu operator lain, tetap bisa dioperasikan secara normal.kbc7
Berita Terkait
- Tarif XL BlackBerry One kini hanya Rp 99 Ribu/bulan
- XL tingkatkan bandwidth BlackBerry jadi 400Mbps
- Telkomsel buka Pusat Pelayanan BlackBerry di Bandung
- 2014, Ponsel pintar akan tumbuh dua kali lipat
- Pasar unik, BlackBerry belum tergantikan
- Bisnis konten BlackBerry prospektif
- Bayar zakat bisa lewat Blackberry
- Pasarkan BlackBerry, Smart bidik pelanggan GSM yang kecewa
- Indosat klaim jadi penyedia layanan BlackBerry terlengkap
- Jaga pasar, XL dukung penuh komunitas BlackBerry

