loading...
Kategori
Umum
Mode Baca
Kurs USD-IDR
4/21/2014
11.433
IHSG
4/21/2014
4.892,29
-4,76 (-0,10%)
Minyak Mentah
4/21/2014
104,09
-0,21 (-0,20%)
Emas
4/21/2014
1.287,40
-6,00 (-0,47%)

Sampah, Dibuang dan Disayang

Online: Minggu, 14 Februari 2010 | 09:24 wib ET

SURABAYA,kabarbisnis.com: Sampah menjadi masalah utama penduduk perkotaan juga Surabaya. Namun, bila mau sedikit kreatif sampah menjadi barang berharga, sekaligus inkam tambahan bagi ibu rumah tangga. Selain mengurangi volume limbah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang jumlahnya kian bertambah setiap hari.

Adalah Direktur Lembaga Latihan Swasta Bangun Pertiwi, Drs Ec Sri Endah Nurhayati, pencetus program pengelolahan sampah mandiri. Mengelolah sampah sejak dari sumbernya, rumah.

“Saya pikir bodoh, kalau setiap hari membersihkan sungai. Setiap hari dikeruk sejam berikutnya sudah menggunung kembali. Jadi harus dicari sumbernya, solusi dan jalan keluar. Dan sumber sampah terbesar adalah rumah,” kata nominator Kalpataru Penyelamat Lingkungan tahun 2007 dan 2008 yang biasa di sapa Endah ini.

Dari sini ia mengajak warga bantaran sungai Kalisari melakukan gerakan peduli lingkungandengan memilah sampah dapur (organic), plastic, kertas, botol beling (anorganik) dan sampah tidak bisa didaur ulang, seperti pembalut dan pempers. Sampah anorganik dari warga disetorkan pada kader, bisa ketua RT/RW atau warga yang bersedia menjadi pengepul. Sampah organic atau dapur dimasukkan dalam bak khusus dijadikan pupuk dan sampah tidak bermanfaat pembalut dan pempers dibuang di tempat sampah yang setiap hari dibersihkan oleh pasukan kuning.

Dari kader, sampah diambil seminggu sekali oleh pengepul barang bekas, dibeli sesuai harga pasar. Hasil penjualan dikembalikan pada warga sesuai berat sampah yang disetorkan.

Dicontohkan beberapa harga per kilogram sampah kering, anorganik seperti aqua gelas Rp 3.500, pecahan bak, botol plastic bekas sampo, plastic pasta gigi, tutup gallon, botol bedak plastic, botol oli dan sejenisnya Rp 1.200, koran Rp 900, kardus putih/potongan HVS Rp 900, botol sirup, kecap, orson Rp 100, botol bir Rp 300, plastic putih seperti bungkus gula Rp 300, kresek, karpet, talang, glangsing Rp 200, sandal, sepatu yang sifatnya tanpa kayu Rp 150, pecahan kaca atau beling Rp 75 serta masih banyak lagi jenis sampah yang laku dijual. Harga tersebut dapat berubah sesuai harga di pasaran.

“Hanya dengan mengumpulkan sampah seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja bisa menghasilkan uang sekitar Rp 100 ribuan setiap minggu,” terangnya.

Secara tidak langsung, pekerjaan social yang dimulai pada awal 1998 ini turut memperbaiki ekonomi keluarga. Sekaligus mengangkat harkat hidup pemulung, mereka tidak lagi mengais sampah tetapi menjadi pengepul di tingkat RT/RW. Dengan cara ini pabrik pengolahan sampah lebih senang menerima sampah dari warga. Karena barang-barangnya relatif lebih bersih dibanding dari pemulung yang mengorek sampah.

Dan program ini dinilai berhasil dari sisi ekonomi, lingkungan, social, terpenting dapat mengurangi volume sampah di Surabaya, pada 2005 volume sampah per hari yang diangkut ke TPA Benowo mencapai 8.700 km kubik, setelah program ini diterapkan disejumlah kampung di Surabaya volume sampah yang diangkut sekarang turun menjadi 3.500 kim kubik per hari.

Dari penelitian yang dilakukan setiap rumah (keluarga) menghasilkan 5 kg sampah kering dan basah setiap hari. Dengan rincian jumlah ini dodominasi sampah basah 70 %, sampah kering 20 % dan sampah lain-lain seperti tissue dan pembalut 10%. Adapun produsen sampah kering paling banyak di produksi oleh penghuni kos-kosan mencapai 90 %. Sisanya 10 persen sampah basah. Jumlah ini berdasarkan hitungan mereka yang tidak pernah memasak, membeli makan dengan kertas bungkus, membuat mie instant, minuman botol, serta produl lain yang seluruhnya dibeli di supermarket.

Sejauh ini program pengolahan sampah mandiri warga bantaran sungai Kalisari telah ditularkan pada sejumlah warga kota, seperti di Benowo, Genteng dan masih banyak lagi. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ia diminta sejumlah Bupati, seperti Bupati Lumajang, Tuban dan Madiun untuk melakukan pelatihan pengolahan sampah bagi pengurus PKK.

“Jika warga kota sadar lingkungan dan asas manfaat sampah, volume sampah dapat ditekan lagi,” ungkap peraih Tokoh Masyarakat Kecamatan Award 2004, Bidang Sosial pendidikan oleh Pemkot Surabaya. kbc4

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda